Krusial.com — Kebiasaan minum kopi bagi orang Indonesia sudah lama merasuk. Kebiasaan nongkrong diwarung kopi juga sudah merasuk lama. 

Namun kedai kopi yang bersih, modern, pelayan yang ramah dengan cita rasa dunia, baru berjalan beberapa tahun belakangan ini. Mungkin ini terpengaruh dengan suksesnya beberapa ‘brand’ dari luar negeri yang menyajikan warung kopi modern. 

Alhasil… bisnis warung kopi pun merebak di Indonesia. Peminat kopi (konsumen) melimpah, sumberdaya alam kopi juga melimpah di seluruh jagad Nusantara.  Dua potensi inilah yang tampaknya disasar oleh TUKU, sebuah merek warung kopi modern. Dua potensi itu adalah konsumen (pasar) dan tanaman kopi (bahan baku). 

Sebenarnya ada banyak nama, merek, ‘brand’ warung kopi lokal alias merek kopi yang didirikan oleh anak-anak bangsa. Salah satunya adalah TUKU. 

Sepuluh tahun yang lalu Kopi TUKU didirkan di sebuah kios kecil dan apa adanya. Kios ukuran 16 meter persegi di Cipete, Jakarta Selatan adalah kenangan awal semua ini. 

Memasuki usia ke 10 tahun, toko kopi TUKU berhasil  mencatatkan kinerja impresif yaitu dengan pertumbuhan mencapai 365 persen.  Laba bersh (CAGR- Compound Annual Growth Rate, Pertumbuhan Rata-rata Pertahun)  sebesar 141 persen dalam tiga tahun terakhir. 

PT Karya Tetangga TUKU mengklaim  posisinya sebagai salah satu brand kopi lokal dengan pertumbuhan tercepat dan paling berkelanjutan di Indonesia.

“TUKU adalah contoh nyata bahwa bisnis bisa tumbuh besar tanpa kehilangan nilai-nilainya. Ini bukan hanya soal angka, tapi tentang integritas dalam menjalankan usaha,” ujar Aryo Widiwardhono, Komisaris Utama PT Karya Tetangga Tuku. Aryo memaparkan itu dalam acara  “Satu Dekade Bertetangga” yang digelar di kawasan Cipete Jakarta pada Senin  (30/6/2025).

Didirikan pada tahun 2015 dari kios kecil berukuran 16 meter persegi di Cipete, TUKU kini mengelola banyak jaringan sebagai berikut:

  • Jumlah Barista:  1.040 orang,
  • Jumlah gelas terjual: 78.000/ hari
  • Jumlah cabang: 72 di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Malang, dan Yogyakarta.

Rencana tahun ini:  Bali dan Amsterdam.

“Ekspansi ke Amsterdam bukan sekadar pencapaian, tapi bentuk pembuktian bahwa cerita dan rasa dari Indonesia bisa diterima di panggung global. Kami datang bukan hanya untuk membuka toko, tapi membawa nilai-nilai yang sejak awal kami jaga,” kata Andanu Prasetyo, CEO dan Founder TUKU. Nilai-nilia apa yang dimaksud leh sang CEO? Ceritera di bawah ini mungkin bisa menjelaskan. 

Ceritera di atas adalah kisah sukses TUKU sebagai warung kopi yang mampu menarik minat para pembeli kopi, konsumen kopi yang melimpah di tanah air. Nah Kopi TUKU juga sukses mengelola sumber daya bahan baku warung kopi yaitu tanaman kopi itu sendiri dan petaninya. 

Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan menyeluruh, TUKU tidak hanya fokus di hilir. Melalui unit Beragam, TUKU menjalin kemitraan berkelanjutan dengan petani kopi, petani aren. Berikut adalah data pengelolaan bahan baku kpi:

  • Jumlah mitra petani kopi: 630 petani.
  • Jumlah mitra petani aren:  275 petani.

Kopi TUKU juga telah meluncurkan program Bersemi sebuah inisiatif agroforestri yang telah menanam 5.000 pohon di tiga wilayah konservasi. Tidak ada penjelasan dimana tiga wilayah itu. 

“Kami percaya, pertumbuhan yang kuat adalah pertumbuhan yang dilakukan bersama. Itulah kenapa kami membangun TUKU dengan semangat gotong royong dari hulu sampai hilir,” ujar Vella Siahaya, Chief Experience Officer (CXO) TUKU di tempat yang sama.

TUKU juga mencatat performa organisasi yang sehat. Survei eNPS (Employee Net Promoter Score) mencatat skor 73, tergolong “sangat tinggi”. Sebanyak 94 persen karyawan menyatakan TUKU memberikan dampak positif pada pengembangan diri mereka, dengan tingkat pergantian karyawan (turnover rate) hanya 3 persen.

Dari lini retail TOSERBAKU hingga F&B group SUKA yang membawahi TOHO, Futago, dan Minarwati, PT Karya Tetangga Tuku kini membentuk ekosistem bisnis yang tak sekadar menjual produk, tapi memperkuat makna hidup keseharian.

“Ini baru permulaan. Selama masih ada tetangga yang bisa disapa, dan cerita yang bisa dibagi, kami akan terus berjalan. Dengan kopi, dengan hati,” ucap Vella.***