Krusial.com — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 menemukan jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini berpotensi tidak disadari masyarakat. Dari hasil skrining, hipertensi dan diabetes menjadi temuan penting karena sebagian besar kasus yang teridentifikasi belum diikuti pengobatan aktif.
Kementerian Kesehatan mencatat, dari 73,1 juta peserta yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 7,13 juta orang atau 9,7 persen terdeteksi mengalami hipertensi. Selain itu, 7,25 juta peserta atau 9,9 persen berada dalam kondisi pre-hipertensi.
Temuan diabetes juga cukup besar. Sebanyak 1,19 juta peserta atau 2,2 persen terdeteksi mengalami diabetes, sementara 2,49 juta orang atau 4,5 persen berada pada kondisi prediabetes.
Pada kelompok peserta berusia lebih dari 40 tahun yang memiliki riwayat hipertensi atau diabetes, persoalan metabolik juga terlihat cukup tinggi. Sebanyak 72,7 persen atau sekitar 256.485 orang dalam kelompok tersebut ditemukan mengalami dislipidemia atau kadar kolesterol tinggi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan hasil skrining tersebut perlu menjadi perhatian karena hipertensi, diabetes dan gangguan kolesterol merupakan faktor risiko sejumlah penyakit serius.
“Di Indonesia kematian paling tinggi karena stroke, nomor dua serangan jantung, nomor tiga kanker, nomor empat ginjal. Nah, penyakit nomor 1, 2, dan 4 stroke, jantung, dan ginjal itu penyebabnya hipertensi, diabetes, dan kolesterol,” kata Menkes dalam rapat kerja di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Menurut Menkes, persoalan tersebut menjadi lebih serius karena penyakit tidak menular sering berkembang tanpa gejala yang dirasakan secara jelas. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan hasil pemeriksaan CKG setelah mengetahui kondisi kesehatannya.
Temuan CKG Tak Berhenti pada Skrining
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan masih terdapat jarak cukup lebar antara jumlah kasus yang ditemukan dengan masyarakat yang aktif menjalani pengobatan.
Dari 7,13 juta kasus hipertensi yang teridentifikasi, baru 755.907 orang atau sekitar 11 persen yang tercatat aktif menjalani pengobatan. Sedangkan dari 1,19 juta kasus diabetes, baru 151.552 orang atau sekitar 13 persen yang menjalani pengobatan.
Angka tersebut menunjukkan pemeriksaan saja belum cukup. Masyarakat yang mengetahui dirinya memiliki tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi atau faktor risiko lainnya perlu melanjutkan pemeriksaan dengan berkonsultasi kepada tenaga kesehatan serta mengikuti anjuran pengobatan.
Pemerintah mendorong masyarakat memanfaatkan Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama untuk memperoleh pemeriksaan dan penanganan lanjutan. Obat untuk hipertensi dan diabetes dapat diperoleh secara gratis melalui Puskesmas sesuai hasil pemeriksaan dan indikasi medis.
Menkes mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai penyakit menimbulkan komplikasi sebelum melakukan pengendalian.
“Tolong jangan anggap remeh kalau tekanan darahnya sudah di atas 120/80, mendingan datang ke Puskesmas dikasih obat gratis. Kalau didiamkan saja merasa dirinya sehat, 3 sampai 5 tahun nanti bisa kena stroke atau cuci darah,” pesan Menkes.
Karies Gigi Jadi Temuan Terbesar
Selain penyakit tidak menular, CKG juga menemukan tingginya persoalan kesehatan gigi. Dari 53,9 juta peserta yang telah menjalani pemeriksaan pada data sementara, karies gigi menjadi temuan dengan proporsi tertinggi, yakni dialami 17.538.649 orang atau 32,5 persen.
“Masalah CKG yang paling besar ternyata gigi. Padahal gigi ini bisa menjadi sumber segala macam penyakit,” ujar Budi.
Tingginya temuan karies tersebut turut berkaitan dengan keterbatasan tenaga kesehatan gigi. Kementerian Kesehatan mencatat masih terdapat kekurangan sekitar 2.700 dokter gigi di Puskesmas di seluruh Indonesia.
Program CKG sendiri dirancang sebagai upaya deteksi dini untuk menemukan penyakit maupun faktor risiko sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Pemeriksaan dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan yang ditunjuk pemerintah, termasuk Puskesmas.
Hasil skrining selanjutnya dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi, pemantauan maupun rujukan apabila diperlukan. Melalui pemeriksaan berkala, masyarakat diharapkan dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal dan mengambil langkah pengendalian, termasuk memperbaiki pola hidup maupun menjalani pengobatan. ***
Tinggalkan Balasan