Krusial.com — Universitas Teuku Umar (UTU) terus membenahi lingkungan kampus dan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan orientasi lebih luas, yakni memastikan mahasiswa tidak hanya menyelesaikan pendidikan, tetapi juga memiliki bekal untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan sosial serta memiliki daya saing.
Rektor UTU Prof. Dr. Nyak Amir, S.Pd., M.Pd., mengatakan, pembangunan kampus saat ini diarahkan tidak semata pada infrastruktur, tetapi juga pada penguatan kapasitas mahasiswa dan seluruh civitas akademika agar mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Saat ini kami terus berbenah, dan percepatan pembangunan baik infrastruktur UTU dan sumber daya manusianya. Tujuannya agar lebih cepat bergerak dan berdampak nyata bagi masyarakat umum,” kata Prof Nyak Amir saat bersilaturahmi dengan sejumlah Jurnalis di Aceh Barat, Senin (5/10/2026).
Menurut dia, peningkatan kualitas pendidikan di UTU dilakukan melalui berbagai program yang menyentuh kehidupan mahasiswa di dalam kampus.
Program itu salah satunya melalui penguatan nilai-nilai syariat Islam, termasuk dengan menghidupkan aktivitas di Masjid Nurul Ilmi yang berada di lingkungan kampus.
Prof Nyak Amir menyebut kawasan masjid tersebut akan ditata agar menjadi ruang lebih nyaman bagi mahasiswa.
Penataan itu, kata dia, mencakup menata taman wisata religi, tempat duduk, fasilitas WiFi untuk mendukung aktivitas dan tugas perkuliahan mahasiswa. Tak cukup sekedar itu, di area khusus ini akan ada aturan batas antara mahasiswa laki-laki dan perempuan.
Ia menyebut penataan lingkungan masjid tersebut merupakan bagian dari upaya UTU memperkuat penerapan nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan kampus.
“Baru-baru ini mencuat permasalahan mahasiswa meminta untuk mendirikan gereja Kristen. Namun hal itu tak bisa disetujui, mengingat Aceh punya kekhususan aturan yang secara resmi tertuang dalam Qanun Aceh. Aturan ini ketat, jadi kita harus manut dengan aturan kekhususan Aceh ini. Bersyukur di Aceh, Meulaboh khususnya toleransi bidang keagamaan,” ujar Prof Nyak Amir.
Di sisi lain, perhatian UTU juga diarahkan pada persoalan yang akan dihadapi mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
Sebagai salah satu perguruan tinggi nasional di wilayah Barat Selatan Aceh, UTU berupaya membuka lebih banyak akses bagi alumninya untuk masuk ke dunia kerja, khususnya pada perusahaan yang beroperasi di wilayah Aceh Barat dan Nagan Raya.
Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan melalui nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Menurut Prof Nyak Amir, kerja sama itu menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan lulusan UTU dengan kebutuhan tenaga kerja di daerah.
“Kami belakangan sudah memanggil seluruh pihak perusahaan yang beroperasi di Nagan Raya dan Aceh Barat untuk bekerjasama lewat ikatan MoU, agar dapat memprioritaskan dan menerima pekerja dari alumni UTU,” katanya.
Bagi UTU, pembangunan SDM tidak berhenti ketika mahasiswa memperoleh ijazah. Kampus juga ingin memastikan lulusan memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan dan memperoleh kesempatan bekerja di daerah sendiri.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya UTU memperkuat keterhubungan antara pendidikan tinggi, kebutuhan dunia usaha, dan pembangunan daerah, termasuk penguatan syariat Islam di kawasan belahan Barat Selatan Aceh. ***
Tinggalkan Balasan