Krusial.com — PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berpotensi mencetak peningkatan kinerja yang signifikan, seiring regulasi pemerintah dan pertumbuhan dari ekspansi, serta aktivitas merger & akuisisi (M&A). Sementara itu, di lantai bursa, saham TOBA masih murah.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap, Prasetya Gunadi, dan Ahnaf Yassar mengemukakan bahwa dalam jangka pendek, TBS Energi memiliki beberapa pendorong utama, salah satunya peraturan presiden tentang waste to energy (WTE) yang akan terbit.
Peraturan tersebut diperkirakan bakal menaikkan tarif dari US$ 0,13 menjadi US$ 0,19/kWh dan menyederhanakan izin IPP. Hal itu akan mendorong IRR ke level belasan persen, serta memperpendek periode balik modal menjadi hanya 5-6 tahun.
“TBS Energi (TOBA) berada pada posisi yang baik untuk menangkap peluang besar WTE di Indonesia, yang akan mendorong pertumbuhan, return lebih kuat, serta peningkatan penilaian ESG,” tulis Juan dalam risetnya, yang dikutip pada Kamis (18/9/2025).
Setelah beralih dari batu bara ke pengelolaan limbah dan energi terbarukan melalui peta jalan TBS 2030, TOBA muncul sebagai salah satu pemain utama dalam transisi energi di Indonesia. Seiring berjalannya transisi, EBITDA diproyeksikan tumbuh dari US$ 71 juta pada 2024 menjadi US$ 231 juta pada 2030.
Kontribusi bisnis batu bara akan menyusut menjadi hanya 1% dari 88% pada 2024. Sedangkan bisnis pengelolaan limbah bakal berkontribusi 35% dan energi terbarukan sebesar 24%.
Akuisisi Sembcorp pada kuartal I-2025 telah mengubah emiten berkode saham TOBA tersebut menjadi operator limbah terintegrasi terbesar di Asia Tenggara. EBITDA dari bisnis pengelolaan limbah mencapai 85% dan kontribusi EBIT 2025 sebesar US$ 53 juta, yang menyumbang sebagian besar laba operasi TOBA di tengah gangguan bisnis batu bara tahun ini.
“Ke depan, kami memperkirakan pertumbuhan laba dari bisnis pengelolaan limbah akan berlipat ganda pada 2026, yang mencerminkan 67% dari EBITDA TOBA,” ungkap Juan.
Rekomendasi Saham dan Potensi Cuan
Samuel Sekuritas merekomendasikan beli saham TOBA dengan target harga berbasis sum of the parts (SOTP) sebesar Rp 2.100. Target harga tersebut menyiratkan estimasi EV/EBITDA 2026 sebesar 11,5 kali. Adapun ROE 2026 diproyeksikan sebesar 18%.
Dengan mengacu pada harga saat ini, maka potensi cuan saham TOBA tergolong besar mencapai 68%.
Secara valuasi, saham TOBA sedang murah. EV/EBITDA sebesar 5,8 kali atau diskon 35% terhadap sektornya dan PER 11,6 kali atau diskon 48% terhadap pesaing, meskipun harga saham TOBA telah naik 212% sejak April 2025.
Potensi kenaikan harga saham TOBA lebih lanjut akan didukung oleh regulasi waste to energy (WTE), serta monetisasi proyek energi terbarukan setelah commercial operation date (COD).
Risiko utamanya jika terjadi keterlambatan regulasi, tantangan eksekusi, dan kebutuhan pendanaan yang lebih besar dari perkiraan.***
Tinggalkan Balasan