Menu

Mode Gelap

Ekonomi · 3 Jun 2024 WIB ·

Kinerja PMI Manufaktur Tunjukkan Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga


					Kinerja PMI Manufaktur Tunjukkan Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga Perbesar

Krusial | Jakarta – Kinerja manufaktur Indonesia pada bulan Mei 2024 tetap mempertahankan catatan ekspansi selama 33 bulan berturut-turut, sejalan dengan upaya Pemerintah menjaga daya beli melalui berbagai kebijakan fiskal.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia tercatat pada level 52,1, sedikit melambat dari bulan April dengan level 52,9. Hal itu didorong oleh terjaganya output produksi dan tingkat permintaan domestik.

“PMI manufaktur masih terjaga dalam zona ekspansif, Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kontribusi sektor manufaktur, khususnya yang berorientasi ekspor. Sehingga kita bisa tetap optimis untuk mencapai pertumbuhan di atas 5 persen di 2024,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Febrio Kacaribu, seperti dikutip Krusial, pada Senin, 3 Juni 2024.

Baca Juga:  AKBP Bambang Kayun Didakwa Terima Suap Rp 57,1 Miliar

Beberapa negara mitra dagang Indonesia juga mencatatkan aktivitas manufaktur yang ekspansif, seperti Tiongkok (51,7) dan India (58,4). Beberapa negara tetangga di kawasan ASEAN seperti Vietnam dan Myanmar juga mencatatkan aktivitas manufaktur yang ekspansif, masing-masing di level 50,3 dan 52,1. Di sisi lain, PMI kawasan Eropa masih berada pada zona kontraksi di level 47,4.

Perkembangan positif juga ditunjukkan oleh perkembangan inflasi seiring upaya Pemerintah dalam melakukan stabilitasi harga pangan. Inflasi pada Mei 2024 tercatat sebesar 2,84 persen (year on year/yoy), melandai dari inflasi April 2024 yang sebesar 3,0 persen (yoy).

Baca Juga:  DPW PA Aceh Selatan Usul Darmansah Bakal Calon Bupati

Secara bulanan, pada Mei 2024 tercatat deflasi 0,03 persen (month to month/mtm) didorong oleh melandainya harga pangan serta tarif transportasi seiring normalisasi permintaan pasca-Idulfitri 2024. Inflasi inti meningkat mencapai 1,93 persen (yoy), naik dari bulan lalu yang tercatat 1,82 persen (yoy), menunjukkan daya beli yang masih terjaga. Inflasi harga diatur pemerintah (administered price) cenderung stabil.

Sementara itu, berbagai kebijakan stabilisasi pangan dan adanya panen berkontribusi pada penurunan inflasi harga pangan bergejolak (volatile food) yang mencapai 8,14 persen (yoy), turun dari angka April sebesar 9,63 persen (yoy).

Baca Juga:  Personel Brimob Kompi I Yon C Pelopor Backup Pemusnahan Ladang Ganja Di Trumon

“Pemerintah akan terus mewaspadai perkembangan harga pangan guna menjaga akses pangan pokok masyarakat. Meskipun harga sudah mulai melandai, Pemerintah terus konsisten dalam mengantisipasi risiko gejolak harga ke depan, terutama karena tantangan cuaca ekstrem. Berbagai kebijakan terus dilaksanakan, antara lain intervensi harga, stabilisasi pasokan, dan meningkatkan kelancaran distribusi guna mendukung pencapaian target inflasi volatile food di bawah 5 persen serta terkendalinya inflasi hingga di tingkat daerah,” tutup Febrio.***

Artikel ini telah dibaca 18 kali

KRUSIAL badge-check

Penulis

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber Krusial.com dan Ikuti Berita Lainnya di Google News
Baca Lainnya

PERMAS For PALA Desak Bustami Hamzah Mencalonkan Diri Menjadi Gubernur Aceh

20 Juli 2024 - 11:05 WIB

Pemerintah Aceh Gelar Pemeriksaan Fisik Mobil Dinas untuk Transportasi PON XXI

20 Juli 2024 - 08:56 WIB

SMAN 1 Blangjerango dan Koramil Gotong Royong Bersihkan Lingkungan

20 Juli 2024 - 08:39 WIB

PBNU Terbitkan Larangan Kerja Sama dengan Lembaga Berafiliasi Israel

20 Juli 2024 - 06:29 WIB

SMP Negeri 4 Kluet Timur Laksanakan Pemilihan Ketua OSIS Tahun Ajaran 2024/2025

20 Juli 2024 - 04:47 WIB

Pj Gubernur: Festival Rapai Aceh, Sarana Pelestarian Budaya

20 Juli 2024 - 04:09 WIB

Trending di News