Krusial.com — Memasuki hari kedua pencarian, tim SAR gabungan masih belum menemukan Muhammad Iqbal (19), seorang mahasiswa asal Medan yang hilang terseret ombak di Pantai Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Hingga Rabu malam (2/7/2025), operasi pencarian yang dilakukan sejak pagi belum membuahkan hasil.
Kepala Basarnas Banda Aceh, Al Hussain, dalam keterangannya menyebutkan bahwa pencarian dilakukan sejak pukul 08.00 WIB dengan mengerahkan dua tim penyelamat. Tim pertama melakukan pencarian laut menggunakan perahu karet sejauh dua kilometer, sedangkan tim kedua menyisir garis pantai sejauh 1,5 kilometer.
Pencarian sempat terkendala cuaca. Angin kencang membuat drone thermal tidak bisa digunakan pada pagi hari. “Drone baru bisa diterbangkan sekitar pukul 14.00 WIB, setelah kondisi angin mulai mereda,” jelas Al Hussain.
Upaya pencarian dihentikan sementara pada pukul 19.00 WIB dan akan dilanjutkan pada Kamis pagi pukul 08.00 WIB. Cuaca di lokasi saat ini dilaporkan cerah, namun kondisi ombak di Pantai Lhoknga masih cukup berbahaya untuk aktivitas renang bebas.
Diketahui, Muhammad Iqbal bersama rekannya, Shella, mandi di pantai pada Selasa (1/7/2025) sore. Meski sempat diingatkan agar tidak berenang terlalu jauh, keduanya tergulung ombak. Shella berhasil diselamatkan oleh seorang peselancar, sementara Iqbal hilang terseret arus.
Operasi SAR melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Basarnas Banda Aceh, Pos TNI AL Lhoknga, Koramil Lhoknga, Polsek Lhoknga, BPBD Aceh Besar, Satgas SAR Banda Aceh, RAPI, dan warga sekitar. Peralatan yang digunakan meliputi perahu karet, peralatan selam bawah air, alat komunikasi, dan drone thermal.
Muhammad Iqbal tercatat sebagai warga Lor Buntu Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara. Ia diketahui sedang berlibur di Aceh bersama rekannya. Atas kejadian ini, Basarnas mengimbau masyarakat yang berkunjung ke pantai, khususnya Pantai Lhoknga, agar selalu berhati-hati dan mengikuti arahan keselamatan dari petugas karena karakteristik ombak di wilayah ini dikenal cukup kuat dan berisiko tinggi.***
Tinggalkan Balasan