Laporan: Safdar.S
Krusial.com| Sumatera Barat – Kunjungan Muhibbah MPU Aceh Selatan kepada Majelis Ulama Indonesia, Provinsi Sumatera Barat berlangsung hangat dan penuh keakraban.
Pertemuan silaturahmi ulama, perwakilan pemerintah Aceh Selatan dengan ulama dan perwakilan pemerintah provinsi Sumatera Barat ini berlangsung di salah satu ruang pertemuan pada salah satu hotel di Padang Sumatera Barat.
Pertemuan silaturahmi ulama dari dua daerah berbeda ini bertujuan untuk saling bertukar informasi terkait perkembangan pendidikan, penerapan syariat Islam, budaya dan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan beragama masyarakat baik di Kabupaten Aceh Selatan, maupun di Sumatera Barat.
Ketua Umum MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa dalam sambutannya di hadapan anggota MPU Aceh Selatan memaparkan awal berdirinya MUI provinsi Sumatera Barat pada Mei 1968, sehingga jika dibandingkan dengan lahirnya MUI pusat maka MUI Sumatera Barat telah berdiri 7 tahun lebih awal.
“Waktu itu belum MUI namanya, tetapi majelis ulama Sumatera Barat, itu jika ditelusuri dari penamaan MUI, akan tetapi sebelumnya sudah ada nama majelis Islam tinggi yang meliputi Sumatera Tengah, MIT ST namanya, dan pendirinya Syekh Sulaiman Al – Rasuli yang malam beliau ada di Candung,” papar Buya Gusrizal.
Buya melanjutkan, pada tahun 1974 dilakukan Musyawarah Daerah di Bukittinggi yang dihadiri Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), para ulama Sumatera Baratpun akhirnya sepakat bergabung dalam lembaga yang bernama Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Barat dan saat itu Buya Hamka menjadi Ketua umum MUI Pusat.
” Sejak Saat itu, MUI Provinsi Sumatera Barat terus menyuarakan tuntutan dari realita yang ada, dimana tanggung jawab keulamaan harus kami jalankan,” terang Buya Dt. Palimo Basa.
Buya menegaskan, tanggung jawab dan amanah itu tidak hanya sebagai pertanggungjawaban semata namun hal itu merupakan amanah yang tersandang, amanah ilmiah yang dimana konsekwensinya adalah harus berbicara sesuai ilmu dan bersikap sesuai tuntunan ilmu.
” Jika tidak maka pertanggungjawaban seseorang yang alim tentu lebih berat dari seseorang yang awam,” imbuh Buya.
Hal itu pula lanjut Ketua Umum MUI Sumatera Barat yang akan dikristalkan menjadi semboyan yang terus diingatkan yaitu membawa Izzah menyandang Khidmah.
” Maknanya adalah membawa wibawa keulamaan, jika sebagai pribadi kita tidak ada apa-apanya, siapalah kita, nah MUI sebagai kelembagaan ulama harus membawa wibawa keulamaan dan menyandang Khidmah keumatan atau pelayanan kepada umat,” jelas Buya.

Dalam kesempatan itu, Buya Gusrizal juga menjelaskan bagaimana dekatnya antara Islam dan adat-istiadat Minangkabau yang terus dilestarikan hingga saat ini. Tak hanya itu, Buya juga memaparkan bagaimana tantangan yang dihadapi MUI Sumatera Barat dalam menghadapi berbagai permasalahan umat kekinian, namun dengan kerjasama semua pihak di ranah Minang hal itu dapat dilaksanakan dengan baik.
Hadir dalam Muhibbah MPU Aceh Selatan tersebut, Ketua MPU Aceh Selatan, Tgk. H. Armiya Ahmad, Kepala Sekretariat MPU Aceh Selatan, Anakhi SP, Kabag Kesra Pemkab Aceh Selatan, Pengurus Kesekretariatan MPU Aceh Selatan, para anggota MPU Aceh Selatan, Ketua Umum MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa, para Pejabat MUI Sumatera Barat dan perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Kegiatan Muhibbah MPU Aceh Selatan itu juga diwarnai dialog seputar sejarah Islam di Sumatera Barat hingga pelaksanaan syariat Islam di provinsi Aceh khususnya Aceh Selatan.
Tinggalkan Balasan