Krusial.com — Aksi korporasi berupa akuisisi kembali mewarnai pasar modal Indonesia menjelang akhir 2025. Sejumlah emiten lintas sektor mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat struktur usaha dan memperluas portofolio bisnisnya.

Langkah paling anyar datang dari PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA), emiten komponen otomotif milik konglomerat TP Rachmat. Perseroan tengah dalam tahap finalisasi akuisisi perusahaan manufaktur komponen plastik kendaraan roda empat, PT Mah Sing Indonesia.

Dalam keterbukaan informasi, Corporate Secretary DRMA Ari Indra Gautama menjelaskan proses legal dan dokumentasi akuisisi masih dalam tahap negosiasi. Nilai transaksi disebut berada di bawah ambang batas transaksi material.

“Dampak dari akuisisi nantinya adalah peningkatan pendapatan serta penambahan portofolio produk khususnya pada komponen plastik untuk kendaraan roda empat [4W],” tulis Ari dalam keterbukaan informasi, Senin (27/10/2025).

DRMA akan mengambil sekitar 82% saham PT Mah Sing Indonesia dari Vital Routes Sdn. Bhd. dan PT Kingsanindo Perkasa Indah.

Sepanjang Januari—September 2025, DRMA mengantongi penjualan Rp4,39 triliun atau tumbuh 9,2% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Lebih terperinci, penjualan dari segmen roda dua tercatat sebesar Rp2,72 triliun dan masih menjadi kontributor utama pendapatan dengan porsi sebesar 62%.

Adapun, segmen roda empat (4W) menyumbang penjualan sebesar Rp988,18 miliar, disusul segmen lainnya sebesar Rp680,63 miliar. DRMA juga mencatat penjualan ekspor sebesar Rp18,37 miliar sepanjang 9 bulan 2025. 

Pada saat yang sama, laba bersih DRMA tercatat naik tipis 1,69% YoY menjadi sebesar Rp428,11 miliar. I

rianto Santoso, Presiden Direktur Dharma Polimetal, menyampaikan capaian pertumbuhan perseroan lebih tinggi dari laju pertumbuhan industri secara nasional, di mana data Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) menunjukkan bahwa penjualan kendaraan bermotor di Indonesia sampai September tahun ini turun 11,28% YoY menjadi 561.819 unit.

“Perseroan meraih kinerja solid di situasi sulit ini berkat strategi diversifikasi produk serta efisiensi di lini manufaktur yang turut memperkuat profitabilitas,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (27/10/2025).

Dalam hal diversifikasi produk, lanjut Irianto, DRMA terus membangun dan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik sebagai rencana strategis dalam diversifikasi produk-produk perseroan. Untuk itu, DRMA telah mengembangkan unit bisnis Dharma Connect (DC) sebagai ekosistem komponen kendaraan listrik kolaboratif yang lengkap. 

Selain itu, DRMA juga masuk ke after market dengan mengembangkan produk Aki Lithium 12V, 6Ah. Tidak hanya komponen otomotif, DRMA juga telah mengembangkan Battery Energy Storage System (BESS) sebagai salah satu diversifikasi bisnis Perusahaan.

Selain DRMA, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) juga mengumumkan rencana akuisisi 53,57% saham PT Personel Alih Daya Tbk. (PADA) dari Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat).

Direktur Utama INET Muhammad Arif menjelaskan, negosiasi dilakukan pada 23 Oktober 2025 dan telah menghasilkan penandatanganan Indikasi Syarat dan Ketentuan Jual Beli.

“Perseroan [INET] akan menjadi pengendali baru perusahaan target,” tulisnya dalam keterbukaan informasi, Senin (27/10/2025).

PADA sendiri baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2022 dengan dana IPO Rp90 miliar. Sebagian besar hasil IPO digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan pengembangan bisnis jasa outsourcing, teknikal, hingga IT.

Masih di Oktober, aksi akuisisi juga datang dari sektor properti. PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) melalui dua anak usahanya, PT Abadi Jaya Sakti (AJS) dan PT Tigamitra Ekamulia (TME), resmi mengakuisisi aset Imperial Aryaduta Hotel & Country Club (IAHCC) dari entitas asal Singapura, First Real Estate Investment Trust (First REIT).

Transaksi senilai Rp332,2 miliar itu melibatkan pembelian seluruh saham PT Karya Sentra Sejahtera (KSS), pemilik IAHCC. Corporate Secretary LPKR Ratih Safitri menyebut transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak negatif material terhadap keuangan maupun operasional perseroan.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif First REIT Management Limited Victor Tan menilai divestasi ini mencerminkan premi 22,2% dibandingkan biaya investasi awal pada 2006.

“Divestasi tersebut merupakan langkah tepat waktu dalam strategi capital recycling yang kami jalankan,” ujarnya dalam keterbukaan di Bursa Singapura (SGX).

Beberapa hari sebelumnya, PT Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi pemegang saham pengendali PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) setelah membeli 43,78% saham perseroan pada 10 Oktober 2025.

Direktur Utama MCI Noprian Fadli menyebut transaksi melibatkan 1,5 miliar saham dengan total nilai Rp15,9 miliar, dilaksanakan di dua harga berbeda, yakni Rp2,9 dan Rp26 per saham.

“Tujuan dari transaksi adalah rencana akuisisi. Status kepemilikan saham secara langsung,” ujarnya dalam keterbukaan informasi (13/10/2025).

Corporate Secretary PIPA Imanuel Kevin Mayola menjelaskan, MCI juga berkomitmen menginjeksi aset senilai Rp3 triliun untuk memperkuat ekspansi ke sektor utilitas dan infrastruktur, termasuk pengembangan pipa berteknologi tinggi seperti HDPE.

“Akuisisi ini menjadi babak baru bagi PIPA. Didukung oleh injeksi aset triliunan rupiah dan jalinan kerja sama internasional, PIPA di bawah kendali Morris Capital siap bertransformasi,” ujar Imanuel.

Sebelumnya, di penghujung September, PT Astra International Tbk. (ASII) juga merampungkan transaksi besar. Melalui entitas usahanya PT Saka Industrial Arjaya, Astra resmi menjadi pengendali PT Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP) setelah menuntaskan akuisisi senilai Rp3,34 triliun pada 30 September 2025.

Sekretaris Perusahaan Astra Gita Tiffani Boer menyampaikan, akuisisi itu melibatkan pembelian 83,67% saham MMLP dari PT Suwarna Arta Mandiri, Bridge Leed Limited, dan beberapa pemegang saham minoritas.

“Dengan demikian, pada 30 September 2025, PT Saka Industrial Arjaya telah menjadi pengendali baru MMLP,” tulis Gita.

Transaksi jumbo ini juga tercatat di pasar negosiasi BEI dengan total 5,76 miliar saham berpindah tangan. Astra menegaskan bakal melaksanakan penawaran tender wajib sesuai dengan POJK No. 9/2018.

Di sektor energi, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) mencuri perhatian dengan rangkaian akuisisi strategis sepanjang paruh kedua 2025. Setelah menuntaskan akuisisi Grup Hafar pada Agustus, RAJA melalui anak usahanya menandatangani perjanjian pengikatan jual beli saham bersyarat untuk mengakuisisi perusahaan perdagangan gas di Banten.

Perseroan juga sedang menjalani due diligence untuk dua perusahaan pelayaran dengan aset berupa dua kapal LNGC dan satu VLGC. Selain itu, RAJA bersama mitranya tengah melakukan studi kelayakan pembangunan terminal LNG di Banten dan menyiapkan pembangunan fasilitas LNG plant di Kalimantan.

Tak hanya di energi fosil, RAJA juga menjajaki akuisisi pembangkit energi baru terbarukan seperti tenaga air dan biomassa, serta sistem penyediaan air minum di Jabodetabek. Presiden Direktur RAJA Djauhar Maulidi menyebut langkah akuisisi ini sejalan dengan roadmap bisnis 2025.

“Langkah akuisisi ini sejalan dengan roadmap bisnis kami tahun 2025, sekaligus memperluas portofolio di segmen midstream dan offshore untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya (15/8/2025).

RAJA sebelumnya juga menjalin kemitraan strategis dengan PT Petrosea Tbk. (PTRO), afiliasi Grup Barito, dalam mengakuisisi Grup Hafar — penyedia jasa EPCI dan pelayaran migas lepas pantai yang telah beroperasi lebih dari 18 tahun.***