Krusial.com — Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini, Jumat (19/9/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,45 persen atau 74 poin ke posisi Rp16.601 per dolar AS.

Dari sisi ekternal, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh data tenaga kerja di Amerika Serikat. Setelah sebelumnya tertekan oleh pengumuman pemangkasan suku bunga Bank Indonesia dan The Fed.

“Rilis data ekonomi AS menyebutkan klaim pengangguran awal mingguan turun menjadi 231 ribu. Jumlah itu lebih rendah dari ekspektasi 240 ribu,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat (19/9/2025)

Sementara itu, indeks manufaktur The Fed Philadelphia bulan September secara mengejutkan naik ke 23,2. Angkanya lebih tinggi dari ekspektasi 2,3 dan -0,3 di bulan Agustus, menandakan pemulihan aktivitas pabrik regional.

Fokus pasar juga masih tertuju pada sanksi AS terhadap minyak Rusia dan pembeli utama minyak Rusia. Setelah upaya gencatan senjata yang gagal antara Rusia-Ukraina.

Di dalam negeri, kata Ibrahim, ada kekhawatiran injeksi likuiditas 200 triliun menteri keuangan akan gagal mengerek perekonomian.  “Saat ini para pengusaha masih gamang memanfaatkan kredit perbankan, dan perbankan sangat berhati-hati menggelontorkan kredit untuk sektor rill,” ujar Ibrahim.

Kondisi itu disebabkan karena daya beli yang masih rendah, akan berisiko bagi pelaku usaha untuk melakukan ekspansi usaha.  “Sepanjang isu permintaan kredit tidak dicarikan solusinya, upaya mengguyur likuiditas perbankan sebesar itu tidak membantu,” ucap Ibrahim.

Pelemahan rupiah hari ini sudah diprediksi oleh Analis Pasar Uang Fikri C. Permana di awal perdagangan hari ini.  Pelemahan disebabkan karena sentimen pasar terhadap ekspektasi membaiknya data klaim pengangguran AS.

“Sedangkan di dalam negeri, ada kekhawatiran di pasar. Mereka melihat kemungkinan penurunan stabilitas fiskal karena kenaikan defisit fiskal menjadi 2,6 persen dalam RAPBN 2026,” kata Fikri.***