Krusial | Jakarta — Reciprocal Tariffs yang dikeluarkan Negara Adidaya Amerika Serikat terhadap negara-negara hubungan dagang dijuluki sebagai perang dagang.

Dicetuskan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Maret 2025 silam dan ditujukan bagi China, Uni Eropa, Vietnam, Taiwan, Jepang, India, Korea Selatan, Thailand, Swiss, Indonesia, Malaysia, Kamboja, Inggris, dan lain-lain. Oleh karena itu, Kebijakan tersebut dikenal pula dengan sebutan Tarif Trump atau dijuluki pula dengan ‘Global Trade War‘ (Perang Dagang Global).

Indonesia sendiri adalah Negara ke sepuluh yang terkena dampak, sementara China berada di urutan pertama. Tarif Trump ini adalah untuk menaikkan Pajak Perdagangan Ekspor. Indonesia dan China terkena sebesar 32℅. Nilai ekspor Indonesia-Amerika selama ini mencapai 64%, sedangkan Ekspor China-Amerika sebesar 67%.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto mengaku, bahwa masalah Tarif Trump kemungkinan Indonesia akan mengalami masalah yang berat. Terutama yang terkena dampak adalah industri Tekstil, Sepatu, Garmen, dan Furniture.

“Ini berat, karena ini masalah padat karya, tetapi kita akan cari jalan keluar, kita berani mencari pasar baru” (Presiden RI, Prabowo Subianto).

Pernyataan Presiden Prabowo ini seakan menyiratkan bahwa Indonesia sudah saatnya mengakhiri loyalitas ketertarikan terhadap Amerika Serikat. “Selama ini kita murid yang setia. Paling setia, paling loyal. Sekarang kita harus dewasa, harus bangun”, ungkap Prabowo sebagaimana dikutip dari video TikTok @maoinfoindonesia.

Tarif Trump seakan mengingatkan bahwa Indonesia sekarang harus berubah. Presiden Prabowo sendiri berkelakar bahwa ia telah bertahun-tahun mengingatkan akan kondisi yang mencemaskan ini.

Dimana, dalam banyak rekam jejak digitalnya, Prabowo mengingatkan, bahwa Indonesia harus berdiri diatas kaki kita sendiri, karena suatu saat nanti ‘No Body is Going to Help Us‘ (tidak ada yang akan membantu kita) kecuali diri kita sendiri. Inilah realita bahwa setiap negara harus mengurus dirinya sendiri.***