Krusial | Jakarta – Praktisi Kesehatan Masyarakat, Nabila Salama, menjelaskan kasus DBD dipengaruhi oleh pola musiman yang dapat diprediksi. Kasus DBD mulai meningkat pada bulan Desember setelah musim hujan dimulai.

Penyebab utama adalah kelembaban udara yang tinggi saat musim hujan, yang mendukung berkembangnya nyamuk penyebar virus. “Hujan yang turun setelah kemarau panjang memudahkan telur nyamuk menetas menjadi jentik,” kata Nabila dikutip Krusial dari Pro3 RRI, Selasa (18/2/2025).

Selain itu, faktor kelembaban udara yang meningkat juga memperburuk situasi, karena jentik-jentik berkembang biak dengan lebih cepat. Menurutnya, faktor-faktor ini menyebabkan peningkatan jumlah nyamuk yang membawa virus demam berdarah.

Ia mengatakan, bukan hanya kelembaban udara, imunitas masyarakat juga turut mempengaruhi penyebaran penyakit ini. “Kurangnya tidur, kecapean, stres, dan aktivitas fisik yang kurang dapat menurunkan imunitas tubuh kita,” ucapnya.

Selain orang dewasa, anak-anak juga menjadi kelompok yang rentan terhadap DBD. Kurangnya kesadaran untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) meningkatkan risiko terjangkit penyakit ini.

Menurutnya, PSN harus dilakukan tidak hanya di rumah, tapi juga di tempat umum, seperti sekolah, kantor, dan taman. “PSN itu penting dilakukan di sekolah dan taman, di mana anak-anak bermain,” ujarnya, menegaskan.

Gejala demam berdarah bisa berkembang menjadi lebih parah jika tidak segera ditangani. Jika tidak segera ditangani, DBD dapat menyebabkan komplikasi fatal, seperti shock dan pendarahan.

“Jika gejala semakin berat dan tidak membaik setelah dua hari, segera bawa ke puskesmas untuk pemeriksaan. Cegah komplikasi dengan deteksi dini, segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan darah,” kata Nabila.

Ia mengingatkan pentingnya vaksinasi dan menjaga pola hidup bersih untuk menghindari DBD. Dengan langkah pencegahan yang tepat, angka kematian akibat DBD bisa ditekan.***