Krusial | Abdya – Harga biji pinang kering bergerak turun dalam sepekan terakhir mencapai rata-rata Rp 5.000/kg, yaitu dari harga Rp 13.000/kg menjadi Rp Rp 8.000/kg. Kondisi ini menyebabkan sejumlah besar agen pengumpul bermodal tipis mengalami kerugian besar.

Sementara, pedagang pinang partai besar terpaksa melakukan aksi stok dengan tidak melepas barangnya kepada importir dalam waktu dekat ini. Aksi ini dilakukan sembari menunggu harga membaik kembali.

Sejumlah agen pengumpul pinang mengakui, pihaknya mengalami kerugian besar, menyusul anjloknya harga pinang awal pekan lalu.

“Kami agen pengumpul pinang yang keliling kampung setiap hari mencari bahan dengan modal tipis terpaksa harus melepas barang meskipun dalam kondisi merugi, karena harga turun. Kalau kami tidak lepas ke pedagang partai besar, mana ada modal lagi untuk membeli bahan,” kata Bang Misa salah seorang agen pengumpul di Aceh Barat Daya (Abdya), pada Minggu (26/1/2025).

Sementara, para pedagang partai besar melakukan aksi stok barang dengan tidak melepaskan sementara waktu ke importir. Aksi ini dilakukan sembari menunggu harga membaik kembali.

“Saya sudah ada 30 ton lebih pinang yang stok di Medan, menyusul anjloknya harga sepekan lalu. Kan tidak mungkin saya jual dengan harga murah, sementara saya beli dengan harga mahal. Kalau harga sudah membaik lagi nanti akan saya lepas ke importir,” kata Khaidir seorang pedagang pinang partai besar di Blangpidie, Abdya.

Menurut Khaidir, Pihkanya memiliki keyakinan harga pinang akan membaik kembali setelah hari raya imlek.

“Kebiasaan saat menjelang imlek harga turun. Tetapi setelah imlek akan membaik lagi,” katanya. (Suprijal Yusuf)