Menu

Mode Gelap

Berita · 28 Jan 2022 WIB ·

Diduga Ilegal Logging di Kawasan Pembangunan Jalan Trumon-Singkil, Rawan Terjadi Konflik Satwa Liar


					Diduga Ilegal Logging di Kawasan Pembangunan Jalan Trumon-Singkil, Rawan Terjadi Konflik Satwa Liar Perbesar

BANDA ACEH – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menemukan ada transaksi jual beli kayu ilegal pada pembangunan jalan Trumon – Batas Aceh Singkil yang masuk dalam skema mutiyears. Berdasarkan laporan dari masyarakat, ditemukan kayu-kayu yang dipotong itu diangkut ke Medan yang diduga diperjual-belikan.

Kayu yang dipotong itu berukuran 2 meter hingga 4 meter yang dikeluarkan menggunakan alat berat (beko). Kayu tersebut diperkirakan berdiameter 30 centimeter hingga 50 centimeter.

Baca Juga:  KPU Tetapkan Prabowo Gibran sebagai Pemenang Pilpres 2024

“Ini kejadiannya berada di kilometer 41, ada dua beko di sana yang mengangkut kayu tersebut,” kata Direktur WALHI Aceh, Ahmad Shalihin, Jum’at (28/01/2022).

Kata Om Sol, sebutan akrab Ahmad Shalihin, berdasarkan peta ruas jalan prioritas pembangunan jalan tembus yang masuk skema tahun jamak, kejadian temuan kayu yang diduga diangkut ke Medan tersebut berada di P.045.12.

“Laporan dari masyarakat kayu itu diangkut pada malam hari,” jelasnya.

Baca Juga:  Kapolda Aceh: Penandatanganan PKT dengan Obvitnas dan Obter Wujud Kerja Sama Soal Keamanan

WALHI Aceh meminta Pemerintah Aceh untuk melakukan pengawasan terhadap pembangunan jalan tembus yang masuk dalam skema multiyears. Terutama jalan tembus Trumon – Batas Aceh Singkil yang melintasi area Konservasi Rawa Singkil.

Om Sol mengaku khawatir pembangunan jalan tersebut yang melintasi area konservasi dapat mengganggu keanekaragaman hayati, terutama satwa kunci Harimau, Gajah, Urangutan (orang utan) dan Badak.

Apa lagi saat ini keberadaan satwa tersebut semakin kritis dan konflik satwa dan perdagangan ilegal masih tinggi di Aceh.

Baca Juga:  BMK Aceh Selatan Terima Uang Zakat Dari Bank Aceh Syariah Cabang Tapaktuan

Kondisi ini tentunya, sebut Om Sol akan semakin menyuburkan terjadi konflik dan kematian satwa yang dilindungi, maka pemerintah terutama KPH VI harus pro aktif melakukan pengawasan.

Di area konservasi yang melintasi jalan tembus tersebut juga terdapat endemik anggrek pinsil (Vanda hookeriana) dan kantong semar (Genus nepenthe). Bila dibiarkan tanpa ada perlindungan, dikhawatirkan tanaman langka ini juga bakal punah.

Artikel ini telah dibaca 24 kali

KRUSIAL badge-check

Penulis

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber Krusial.com dan Ikuti Berita Lainnya di Google News
Baca Lainnya

Gerakan Sinergi Reforma Agraria, Kantor Pertanahan Kota Lhokseumawe Laksanakan Pelatihan Budidaya Udang Secara Tradisional

24 April 2024 - 15:32 WIB

Terkait Gift Voucher Rp50 Ribu, APH Diminta GeRAK Aceh Barat Panggil PT AJB dan DPRK

24 April 2024 - 13:30 WIB

Sejumlah Gampong di Kluet Selatan Lakukan Sosialisasi Pembentukan BMG

24 April 2024 - 13:05 WIB

FJL Aceh Kembali Buka Sekolah Jurnalis Lingkungan Batch III Tahun 2024

24 April 2024 - 09:21 WIB

Diduga Hauling Batu Bara PT AJB Terindikasi Persekongkolan dan Sogok

24 April 2024 - 09:07 WIB

Prabowo Akan Lakukan Komunikasi Politik Demi Koalisi Yang Kuat

24 April 2024 - 07:04 WIB

Trending di Nasional