ACEH SELATAN – Ketua Asosiasi Kelapa Sawit Indonesia, (Apsakindo) Aceh Selatan, Tgk Jasadin, mengatakan, dampak turunnya Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit, sejumlah lokasi timbangan ram sawit atau tempat pembelian TBS di kabupaten Aceh Selatan terancam tutup, pasalnya akibat pelarangan ekspor CPO, pasokan TBS sawit di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Subulussalam semakin menumpuk.

“Ini dampak kebijakan pelarangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) yang diberlakukan sejak 28 April 2022 oleh pemerintah pusat sehingga memicu merosotnya harga sawit di pasaran petani, PKS di Subulussalam diperkirakan lima hari ke depan tutup karena tangki penampung CPO di pelabuhan dan tangki di PKS sudah penuh,” ucapnya Senin (16/5/2022) lalu.

Ia melanjutkan dengan ditutupnya PKS, otomatis ram sawit yang ada di Aceh Selatan ikut tutup dengan waktu 2 hingga 5 hari ke depan, selain itu, akibat larangan ekspor CPO, harga TBS sawit semakin anjlok sejak 1 bulan terakhir.

“Hari ini harga TBS sawit tingkat penampung turun menjadi Rp1.300/Kg hingga Rp1.400/Kg,sebelumnya harga TBS kelapa sawit di tingkat penampung tersebut mencapai Rp2.800/Kg hingga Rp3.000/Kg. Sedangkan di pabrik Rp3.200 hingga Rp3.400/Kg,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, petani di Aceh Selatan terpaksa harus memanen sawit mereka, karena menjadi sumber ekonominya kendati harus dijual dengan harga yang relatif murah.

Pihaknya meminta agar Presiden Jokowi mencabut larangan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang sudah diberlakukan sejak 28 April 2022 lalu, karena dengan diberlakukan larangan ekspor tersebut ekonomi petani semakin terpuruk dan petani menjerit. (Redaksi)