Krusial.com — Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI akhirnya bisa menguat 0,49% ke Rp 4.100 pada perdagangan Kamis (5/6/2025).
Sebanyak 230,13 juta saham BBRI ditransaksikan, frekuensi 32.287 kali, dan nilai transaksi Rp 939,54 miliar.
Asing sendiri masih mencatatkan net sell tipis saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan nilai Rp 19,5 miliar.
Saham BBRI bisa menghijau setelah pada perdagangan 2 dan 4 Juni 2025 memerah, dan pada 3 Juni stagnan. Dalam sepekan, saham BRI masih melemah 7,87% dengan net sell asing Rp 681 miliar.
Sementara itu, BRI diyakini tetap tangguh tahun ini dengan pertumbuhan kredit yang sehat dan potensi pembagian dividen. Muncul harga wajar saham BBRI.
BRI menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 7-9% yoy, dengan fokus pada segmen konsumer – misalnya gaji dan KPR – serta UKM dengan ukuran pinjaman berkisar Rp 5-500 miliar.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BRI diproyeksikan sebesar 7,3-7,9%, tergantung pada penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
“Proyeksi 2025 fokus pada optimalisasi portofolio pembiayaan dan efisiensi digital untuk menjaga margin sekitar 8%,” tulis analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer dalam risetnya.
Adapun non-performing loan (NPL) emiten berkode saham BBRI tersebut ditargetkan tetap di bawah 3%, yang mencerminkan komitmen perseroan menjaga kualitas aset.
Selanjutnya, cost to income ratio (CIR) BBRI diestimasi tetap pada kisaran 41-42%, yang menyiratkan efisiensi operasional.
“Manajemen memberi panduan potensi rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) BBRI di atas 85%. Ini memberikan yield dividen yang menarik sebesar 7,9% di 2025,” sebut Miftahul.
Harga Wajar Saham BBRI
Kiwoom Sekuritas menyematkan rekomendasi overweight untuk saham BRI (BBRI). Nilai wajar (fair value) BBRI untuk target 12 bulan sebesar Rp 4.720 per saham. Hal itu berdasarkan bauran valuasi (DDM/valuasi relatif PE & PBV) dan prospek ke depan.
Harga tersebut mencerminkan PE BBRI sebesar 11,02 kali dan PBV sebesar 2,13 kali.
Harga tersebut mencerminkan PE BBRI sebesar 11,02 kali dan PBV sebesar 2,13 kali.
Risiko utamanya mencakup risiko kredit, risiko likuiditas, risiko operasional, dan kebijakan pemerintah terutama suku bunga.***
Tinggalkan Balasan