Krusial.com — Pasangan calon nomor urut 02, Sahirman dan Sasrianda, terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) periode 2026–2027 setelah unggul dalam Pemilihan Raya (Pemira) mahasiswa, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan hasil penghitungan suara, pasangan Sahirman-Sasrianda memperoleh 999 suara, mengungguli pasangan calon nomor urut 01 yang meraih 466 suara. Sementara itu, sebanyak 566 suara dinyatakan rusak dari total 2.031 suara yang tercatat.
Pemungutan suara berlangsung di halaman Gedung Terintegrasi UTU. Hasil tersebut menempatkan Sahirman-Sasrianda sebagai pasangan terpilih untuk memimpin organisasi mahasiswa di lingkungan kampus selama periode 2026–2027.
Usai dinyatakan terpilih, Sahirman menyampaikan apresiasi kepada tim pemenangan dan mahasiswa yang telah memberikan dukungan serta kepercayaan kepada pasangan tersebut.
“Terima kasih untuk seluruh tim pemenangan dan seluruh mahasiswa yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan kepada kami,” ujar Sahirman dalam siaran persnya, Jumat (23/10/2026).
“Terpilihnya kami bukan sekadar sebuah kemenangan, melainkan amanah dan tanggung jawab besar untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa. Mari kita merangkul, mari kita bersatu untuk perubahan dan kemajuan nyata bagi seluruh mahasiswa dan masyarakat,” sambungnya.
Ia menegaskan, hasil Pemira bukan sekadar kemenangan dalam kontestasi, melainkan tanggung jawab untuk memperjuangkan kepentingan mahasiswa secara luas. Karena itu, ia mengajak seluruh mahasiswa UTU kembali bersatu setelah perbedaan pilihan selama proses pemilihan.
Kepemimpinan baru tersebut diharapkan mampu memperkuat fungsi organisasi mahasiswa sebagai wadah penyampaian aspirasi, advokasi, pelayanan kemahasiswaan, dan pengembangan potensi mahasiswa.
Selain itu, komunikasi antara mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, dan pihak universitas dinilai penting untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih terbuka dan partisipatif.
Dengan hasil Pemira ini, Sahirman-Sasrianda diharapkan dapat menjalankan mandat mahasiswa secara bertanggung jawab serta mendorong keterlibatan mahasiswa dalam berbagai agenda kampus dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan dukungan yang diperoleh dalam Pemira menjadi program kerja yang konkret, sekaligus memastikan aspirasi mahasiswa tetap mendapat ruang tanpa membedakan pilihan politik kampus selama proses pemilihan. ***

Tinggalkan Balasan