Krusial.com — Peta kekayaan para konglomerat Indonesia terus bergerak mengikuti perubahan harga saham dan nilai perusahaan yang mereka miliki. Dalam daftar Forbes Real-Time Billionaires per 9 September 2026, Low Tuck Kwong berada di posisi teratas dengan kekayaan sekitar USD18,8 miliar atau Rp329,13 triliun.
Di bawah Low, terdapat sejumlah nama lama dalam jajaran konglomerat terkaya Indonesia, mulai dari Prajogo Pangestu, Robert Budi Hartono, Anthoni Salim hingga Theodore Rachmat. Bisnis mereka tersebar di berbagai sektor, seperti batu bara, petrokimia, perbankan, perkebunan, pertambangan, energi hingga infrastruktur digital.
Jika digabungkan, kekayaan 10 nama dalam daftar tersebut mencapai sekitar USD111,4 miliar atau Rp1.950,28 triliun, berdasarkan perhitungan dengan asumsi kurs Rp17.507 per dolar AS.
Dari Batu Bara hingga Pusat Data
Sektor sumber daya alam masih menjadi salah satu penopang utama kekayaan para konglomerat tersebut. Low Tuck Kwong, misalnya, membangun sebagian besar kekayaannya melalui bisnis batu bara dan menjadi pendiri Bayan Resources.
Forbes mencatat Low sebagai pengusaha yang dikenal dengan julukan raja batu bara. Selain Bayan Resources, ia juga memiliki kepentingan di sejumlah perusahaan lain, termasuk Metis Energy di Singapura, Samindo Resources dan proyek kabel bawah laut SEAX Global.
Pada posisi kedua terdapat Prajogo Pangestu dengan kekayaan sekitar USD17,2 miliar atau Rp301,12 triliun. Kekayaannya berasal dari kerajaan bisnis Barito Pacific yang berkembang dari sektor kayu ke petrokimia, pertambangan dan energi terbarukan.
Barito Pacific mengakuisisi 70 persen saham Chandra Asri pada 2007. Dalam perkembangannya, bisnis Prajogo juga merambah sektor batu bara melalui Petrindo Jaya Kreasi dan energi terbarukan melalui Barito Renewables Energy. Forbes mencatat Prajogo memulai bisnisnya dari sektor kayu pada akhir 1970-an.
Posisi ketiga ditempati Robert Budi Hartono dengan kekayaan sekitar USD16,8 miliar atau Rp294,12 triliun.
Bersama keluarga Hartono, Budi dikenal sebagai pemegang saham utama Bank Central Asia (BCA) dan pemilik bisnis rokok Djarum. Kekayaan keluarga tersebut kemudian berkembang ke sejumlah sektor lain, termasuk bisnis digital melalui Global Digital Niaga yang menaungi Blibli serta Polytron.
Selanjutnya, Anthoni Salim berada di posisi keempat dengan kekayaan sekitar USD11,3 miliar atau Rp197,83 triliun.
Anthoni merupakan pengendali Salim Group, konglomerasi yang memiliki bisnis di berbagai bidang, antara lain makanan, ritel, perbankan, telekomunikasi dan energi. Salah satu perusahaan yang berada dalam kelompok bisnisnya adalah Indofood.
Di posisi kelima terdapat Tahir dan keluarga dengan kekayaan sekitar USD9,5 miliar atau Rp166,32 triliun.
Kekayaan keluarga Tahir berkaitan dengan bisnis Mayapada Group yang bergerak di sektor perbankan, kesehatan, media dan properti. Sebelum membangun bisnis tersebut, Tahir juga pernah menjalankan usaha dealer mobil dan garmen.
Berikutnya, Sri Prakash Lohia menempati posisi keenam dengan kekayaan sekitar USD8,7 miliar atau Rp152,31 triliun.
Lohia membangun kekayaannya melalui Indorama Corp yang bergerak di bidang pupuk, polimer dan berbagai bahan baku industri. Bisnis tersebut berkembang dari usaha produksi benang pintal yang dirintis bersama ayahnya pada dekade 1970-an.
Sektor infrastruktur digital juga mulai terlihat kuat dalam daftar tersebut. Otto Toto Sugiri berada di peringkat ketujuh dengan kekayaan sekitar USD8,4 miliar atau Rp147,06 triliun.
Kekayaan Otto terutama berasal dari bisnis pusat data melalui DCI Indonesia. Ia mendirikan perusahaan tersebut pada 2011. Sebelumnya, Otto juga terlibat dalam pendirian Sigma Cipta Caraka atau Telkomsigma serta Indonet, salah satu penyedia layanan internet awal di Indonesia.
Nama lain dari industri pusat data adalah Marina Budiman, yang berada di posisi kedelapan dengan kekayaan sekitar USD6 miliar atau Rp105,04 triliun.
Marina merupakan salah satu pendiri sekaligus Presiden Komisaris DCI Indonesia. Kehadiran Otto dan Marina sekaligus menunjukkan berkembangnya bisnis infrastruktur digital dalam struktur kekayaan konglomerat Indonesia.
Sementara itu, Lim Hariyanto Wijaya Sarwono berada di posisi kesembilan dengan kekayaan sekitar USD4,9 miliar atau Rp85,78 triliun.
Keluarga Lim memiliki bisnis di sektor perkebunan kelapa sawit melalui Bumitama Agri serta pertambangan dan pengolahan mineral melalui Harita Group. Salah satu perusahaan dalam kelompok tersebut, Trimegah Bangun Persada, tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 2023.
Menutup daftar 10 besar adalah Theodore Rachmat, juga dengan kekayaan sekitar USD4,9 miliar atau Rp85,78 triliun.
Theodore mendirikan Triputra Group pada 1998. Kelompok usaha tersebut kemudian berkembang ke sejumlah bidang, termasuk pertanian, manufaktur dan pertambangan. Ia juga memiliki saham minoritas di perusahaan batu bara Alamtri Resources Indonesia.
Mengapa Posisi Orang Terkaya Bisa Berubah?
Perlu sahabat Krusial ketahui, daftar orang terkaya versi Forbes tidak bisa dipandang sebagai angka yang bersifat permanen. Nilai kekayaan para miliarder dapat berubah seiring pergerakan harga saham perusahaan yang mereka miliki.
Forbes menjelaskan, kepemilikan saham perusahaan publik dalam Real-Time Billionaires diperbarui setiap lima menit selama pasar saham terkait dibuka, dengan harga saham yang memiliki jeda data sekitar 15 menit. Sementara kekayaan yang secara signifikan berasal dari perusahaan privat diperbarui sekali sehari.
Dengan mekanisme tersebut, perubahan harga saham dapat secara langsung memengaruhi nilai kekayaan dan posisi seorang miliarder dalam daftar.
Perbedaan angka juga dapat muncul ketika data diakses pada waktu yang berbeda. Forbes, misalnya, mencatat kekayaan Low Tuck Kwong sebesar USD18,3 miliar pada 10 September 2026, sehari setelah tanggal data yang digunakan dalam daftar ini.
Karena itu, daftar tersebut lebih tepat dibaca sebagai potret kekayaan pada waktu tertentu, bukan ukuran kekayaan yang tetap.
Kekayaan yang Bertumpu pada Kepemilikan Bisnis
Jika melihat latar belakang 10 nama tersebut, sumber kekayaan mereka tidak hanya berasal dari pendapatan sebagai eksekutif atau penghasilan pribadi. Sebagian besar berkaitan dengan kepemilikan saham dan kendali terhadap perusahaan yang memiliki nilai ekonomi besar.
Sektor yang menjadi sumber kekayaan juga cukup beragam. Batu bara dan energi masih menjadi sumber utama bagi beberapa nama, sementara petrokimia, perbankan, perkebunan, pertambangan, manufaktur dan pusat data menjadi sektor lainnya.
Perubahan struktur bisnis tersebut juga menunjukkan bagaimana nilai kepemilikan perusahaan dapat memengaruhi posisi seseorang dalam daftar kekayaan. Ketika valuasi perusahaan meningkat, nilai kepemilikan pemegang saham besar ikut terdorong. Begitu pula sebaliknya.
Dengan demikian, posisi Low Tuck Kwong sebagai orang terkaya Indonesia dalam data Forbes per 9 September 2026 merupakan gambaran pada tanggal tersebut. Posisi dan nilai kekayaan dapat berubah kembali mengikuti pergerakan pasar dan perubahan nilai aset yang menjadi sumber kekayaan masing-masing miliarder. ***
Tinggalkan Balasan