MEMPELAJARI masa Hindu-Buddha di Indonesia, bagi saya, ibarat menelusuri fondasi sebuah rumah besar bernama Nusantara. Kita tidak perlu menjadi penghuni setia rumah itu untuk mengakui bahwa fondasinya sangat menentukan kekokohan bangunan di atasnya. Sebagai seorang Muslim, saya memandang era ini bukan dari sisi keyakinannya, melainkan dari lompatan peradaban yang ditinggalkannya.
Periode ini merupakan masa ketika nenek moyang kita mulai membangun sistem kehidupan yang lebih tertata. Sebelumnya, masyarakat hidup dalam kelompok-kelompok kesukuan yang terpencar. Kehadiran konsep kerajaan Hindu-Buddha kemudian memperkenalkan sistem birokrasi, hierarki sosial-politik yang lebih jelas, serta gagasan tentang negara yang berdaulat. Kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, hingga Majapahit menjadi bukti bahwa cikal bakal persatuan politik dan kemampuan mengelola wilayah maritim yang luas telah tumbuh sejak masa itu. Tanpa fondasi tersebut, mungkin kita tidak akan memiliki gambaran mengenai bagaimana mengelola sebuah entitas bernama Indonesia yang begitu luas dan beragam.
Lebih dari sekadar aspek politik, warisan paling nyata dan abadi dari era ini adalah tingginya perkembangan literasi dan seni. Masa Hindu-Buddha meninggalkan prasasti dan naskah yang menjadi bukti bahwa masyarakat Nusantara telah mengenal budaya tulis-menulis. Bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa yang datang dari luar kemudian melahirkan berbagai adaptasi lokal, termasuk aksara Kawi yang menjadi induk bagi beragam aksara daerah. Dengan kata lain, era ini mewariskan “teknologi informasi” pada zamannya yang memungkinkan pencatatan sejarah, hukum, dan karya sastra.
Dalam bidang arsitektur, peninggalan seperti Candi Borobudur dan Prambanan bukan sekadar tempat ibadah. Kedua candi tersebut merupakan bukti kecanggihan teknologi bangunan, pemahaman matematika, seni pahat, serta kemampuan manajerial luar biasa yang dimiliki nenek moyang kita. Akan sangat dangkal apabila kita hanya memandangnya sebagai simbol agama tertentu, karena nilai utamanya terletak pada kenyataan bahwa bangunan-bangunan tersebut merupakan mahakarya peradaban yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.
Pelajaran paling berharga dari periode ini adalah kemampuan akulturasi yang cerdas. Nenek moyang kita tidak menerima pengaruh asing secara mentah-mentah. Mereka mengadaptasi, menyaring, dan memadukannya dengan kearifan lokal yang telah berkembang sebelumnya. Konsep Dewa-Raja, misalnya, dipadukan dengan tradisi penghormatan kepada leluhur yang telah mengakar kuat di masyarakat. Relief-relief pada candi tidak hanya menggambarkan kisah Ramayana dan Mahabharata, tetapi juga kehidupan sehari-hari petani, nelayan, serta pedagang lokal. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dahulu identitas keindonesiaan bersifat inklusif dan mampu meramu berbagai pengaruh menjadi sesuatu yang baru dan khas.
Sebagai seorang Muslim, saya melihat hal tersebut sebagai teladan yang berharga. Proses masuknya Islam ke Nusantara pun menunjukkan pola yang serupa, yakni melalui pendekatan budaya seperti wayang, seni pertunjukan, dan arsitektur yang telah lebih dahulu berkembang. Dengan demikian, memandang masa Hindu-Buddha secara proporsional bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan merupakan sikap bijak untuk menghargai proses panjang yang membentuk identitas bangsa yang kaya dan beradab hingga hari ini.
Hal lain yang sering luput dari perhatian adalah bahwa era Hindu-Buddha turut meletakkan dasar bagi jaringan perdagangan dan diplomasi internasional Nusantara. Kerajaan Sriwijaya, misalnya, tidak tumbuh besar semata-mata karena kekuatan militernya, melainkan karena kemampuannya mengendalikan jalur perdagangan laut antara India dan Tiongkok. Pada masa itu, Selat Malaka telah menjadi salah satu urat nadi perdagangan dunia, dan Sriwijaya berperan sebagai penjaga stabilitas yang menjamin keamanan aktivitas para pedagang.
Yang lebih menarik, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat pendidikan agama Buddha yang disegani di tingkat internasional. Catatan pendeta Tiongkok, I-Tsing, menyebutkan bahwa para biksu yang hendak belajar agama Buddha ke India dianjurkan terlebih dahulu menimba ilmu di Sriwijaya selama satu hingga dua tahun. Fakta ini menunjukkan bahwa sejak abad ke-7, Nusantara telah diakui sebagai pusat keilmuan dan peradaban dunia. Dengan demikian, gagasan Indonesia sebagai poros maritim dan pusat pengetahuan sejatinya bukanlah cita-cita baru, melainkan bagian dari memori kolektif kejayaan masa lalu yang pernah dimiliki bangsa ini.
Kita juga perlu melihat bagaimana era tersebut mengajarkan praktik toleransi dalam kehidupan masyarakat. Di Jawa Timur, misalnya, terdapat Candi Jawi yang mencerminkan perpaduan unsur Hindu dan Buddha. Keberadaan situs-situs bersejarah yang terus digunakan dan dihormati lintas generasi menunjukkan bahwa lapisan-lapisan sejarah dan keyakinan di Nusantara dapat hidup berdampingan dalam ruang yang sama.
Fenomena semacam ini mengajarkan bahwa identitas keindonesiaan bersifat palimpsest, yakni seperti lembaran naskah kuno yang ditulisi berulang kali tanpa sepenuhnya menghapus tulisan sebelumnya. Jejak Hindu-Buddha tidak hilang ditelan zaman, melainkan menjadi lapisan awal yang kemudian disusul oleh lapisan Islam, kolonialisme, dan berbagai pengaruh lainnya. Setiap lapisan saling memengaruhi dan bersama-sama membentuk karakter bangsa yang kaya, kompleks, dan penuh nuansa.
Oleh karena itu, sebagai generasi muda Muslim, kita tidak perlu merasa asing ataupun terancam oleh warisan sejarah tersebut. Justru dengan memahaminya, kita dapat memahami bagaimana Islam kemudian diterima secara luas di Nusantara. Para Wali Songo tidak datang ke tanah yang kosong dari peradaban. Mereka hadir di tengah masyarakat yang telah memiliki tradisi seni yang tinggi, sistem sosial yang mapan, serta cara berpikir yang berkembang berkat warisan masa sebelumnya.
Dakwah yang mereka lakukan dengan bijaksana dan penuh kedamaian membuktikan bahwa perubahan keyakinan tidak harus disertai dengan pemusnahan budaya. Inilah pelajaran penting bagi kita saat ini: menjadi pribadi yang beriman tidak berarti harus memutus akar sejarah. Sebaliknya, kita dapat merangkai kembali warisan masa lalu dalam bingkai nilai-nilai yang kita yakini. Dengan demikian, menghargai jejak Hindu-Buddha berarti menghargai proses panjang yang pada akhirnya mengantarkan kita pada Indonesia yang berketuhanan, berkebudayaan, dan berperadaban seperti yang kita kenal sekarang.
***Oleh: Handika, Mahasiswa UIN A-Raniry Banda Aceh, Fakultas adab dan Humaniora, prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam.
Tinggalkan Balasan