Oleh: Hasbaini, S.Pd., M.Pd
(Pegiat Literasi Aceh Selatan)
Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan ledakan informasi digital, pembangunan bangsa tidak lagi cukup diukur dari megahnya jalan raya, tingginya gedung pencakar langit, atau kokohnya jembatan yang menghubungkan berbagai wilayah. Pembangunan yang sesungguhnya adalah pembangunan manusia. Sementara itu, fondasi utama pembangunan manusia adalah literasi.
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), literasi merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengomunikasikan, serta menggunakan informasi secara efektif dalam berbagai konteks kehidupan. Dengan kata lain, literasi adalah kemampuan berpikir yang menjadi bekal utama seseorang dalam menghadapi perubahan zaman.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa literasi merupakan kekuatan yang mengonstruksi sebuah bangsa. Bangsa yang memiliki budaya literasi yang kuat akan melahirkan masyarakat yang cerdas, kritis, inovatif, produktif, serta berkarakter. Sebaliknya, rendahnya budaya membaca akan berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia dan melemahnya daya saing bangsa di tengah persaingan global.
Pakar pendidikan Indonesia, Prof. Arief Rachman, pernah menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan mengeja kata, melainkan fondasi pembentukan karakter. Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa melalui literasi seseorang dapat melihat dunia tanpa harus meninggalkan tempatnya. Buku membuka cakrawala berpikir, memperluas wawasan, menumbuhkan empati, dan membentuk karakter.
Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Prof. Richard C. Anderson, ahli pendidikan dan literasi dari University of Illinois. Ia menyatakan bahwa membaca merupakan fondasi utama bagi seluruh proses belajar. Anak-anak yang terbiasa membaca sejak usia dini cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis, daya analisis yang lebih baik, serta prestasi akademik yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang minim budaya membaca.
Lebih jauh, UNESCO dalam berbagai publikasinya menegaskan bahwa literasi merupakan hak dasar setiap manusia sekaligus kunci pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning). Artinya, literasi bukan hanya urusan sekolah atau dunia pendidikan formal, melainkan investasi jangka panjang bagi kemajuan suatu bangsa.
Karena itu, kecintaan terhadap buku harus ditanamkan sejak usia dini. Anak yang akrab dengan buku akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Dari membaca dan menulis, mereka belajar memahami dunia. Dari pemahaman lahir kemampuan berpikir. Dari proses berpikir muncul gagasan, kreativitas, inovasi, hingga berbagai solusi atas persoalan kehidupan.
Di era digital saat ini, tantangan literasi semakin kompleks. Anak-anak lebih banyak berhadapan dengan gawai daripada buku. Informasi datang begitu cepat, tetapi tidak semuanya benar. Oleh sebab itu, literasi juga mencakup kemampuan menyaring informasi, membedakan fakta dan opini, memahami konteks, serta menggunakan teknologi secara bijaksana. Literasi menjadi benteng utama dalam menghadapi hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan berbagai pengaruh negatif media digital.
Membangun budaya literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab guru, dosen, atau pemerintah. Literasi adalah gerakan bersama. Rumah harus menjadi sekolah pertama bagi anak, dan orang tua perlu menyediakan waktu untuk membaca bersama. Sekolah harus menjadikan membaca sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban. Masjid, meunasah, perpustakaan, taman bacaan masyarakat, kampus, kafe, hingga ruang-ruang publik perlu menjadi pusat tumbuhnya tradisi membaca, berdiskusi, dan bertukar gagasan.
Gerakan literasi juga membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, dinas terkait, dunia pendidikan, perguruan tinggi, Bunda Literasi, Duta Baca, media massa, komunitas literasi, pegiat dan relawan literasi, dunia usaha, pemerintah desa, organisasi kepemudaan, guru, dosen, hingga masyarakat luas. Ketika semua pihak bergerak bersama, budaya membaca akan tumbuh menjadi budaya berpikir, budaya berkarya, dan pada akhirnya menjadi budaya membangun bangsa.
Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa-bangsa maju adalah bangsa yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan utama pembangunan. Jepang, Finlandia, Korea Selatan, dan berbagai negara maju lainnya berhasil meningkatkan kualitas sumber daya manusianya karena menempatkan pendidikan dan literasi sebagai prioritas nasional.
Indonesia saat ini memiliki bonus demografi yang sangat besar. Namun, bonus tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila generasi mudanya memiliki budaya literasi yang kuat. Jika tidak, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban pembangunan.
Oleh karena itu, mari mendukung setiap gerakan literasi, sekecil apa pun bentuknya. Jadikan rumah, sekolah, masjid, meunasah, perpustakaan, kafe, taman, dan ruang publik sebagai tempat yang ramah terhadap buku, ilmu pengetahuan, dan diskusi. Sebab, ketika hari ini kita mengajak anak mencintai buku, sesungguhnya kita sedang menyiapkan generasi yang mencintai ilmu, bangsa, dan masa depan Indonesia.
Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya akan sumber daya alam, tetapi juga bangsa yang kaya akan budaya membaca, ilmu pengetahuan, serta karakter. Sebab, literasilah yang mengonstruksi bangsa menuju peradaban yang maju, berdaya saing, dan bermartabat.
Tinggalkan Balasan