Penulis:  Hasbaini, S.Pd., M.Pd
(Akademisi dan Pemerhati Lingkungan)

BANJIR bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali menjadi pengingat keras bahwa bencana alam bukan sekadar peristiwa cuaca ekstrem, tetapi juga cermin hubungan manusia dengan lingkungan. Bencana yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ini menunjukkan betapa rapuhnya ruang hidup ketika keseimbangan alam diabaikan.

Peristiwa banjir bandang ini memperlihatkan bahwa ketangguhan menghadapi bencana tidak dibangun setelah musibah terjadi, tetapi jauh sebelumnya melalui tindakan kolektif menjaga hutan, menata ruang, dan mengelola alam secara bijak. Ketika kawasan resapan air berkurang, alih fungsi lahan terus terjadi, dan tata ruang diabaikan, maka banjir bandang bukan lagi sekadar ancaman, melainkan konsekuensi yang berulang.

Di banyak daerah terdampak, masyarakat bukan hanya kehilangan rumah dan lahan, tetapi juga rasa aman. Air yang menghanyutkan pemukiman dan kebun sekaligus mengguncang keyakinan bahwa ruang hidup mereka selama ini cukup terlindungi. Bagi para penyintas, bencana ini menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan pada akhirnya kembali pada manusia dalam bentuk ancaman keselamatan dan masa depan.

Karena itu, bencana banjir bandang di Sumatera harus menjadi titik balik dalam cara pandang terhadap pembangunan dan pengelolaan lingkungan. Penanganan tidak boleh berhenti pada respons darurat ketika bencana datang, lalu dilupakan saat air surut. Diperlukan komitmen jangka panjang untuk memperkuat mitigasi, penegakan hukum lingkungan, serta literasi ekologis di tingkat masyarakat dan pemerintah.

Doa dan empati kepada korban perlu diwujudkan dalam tindakan nyata: membangun budaya menjaga alam, memperketat pengawasan terhadap aktivitas yang merusak lingkungan, serta memastikan setiap kebijakan pembangunan berpijak pada prinsip keberlanjutan. Pada akhirnya, bumi dapat terus bertahan tanpa manusia, tetapi manusia tidak akan mampu bertahan tanpa bumi yang sehat dan lestari.Aceh Selatan, Sabtu (29/11/25).