Saya percaya bahwa acara yang diadakan oleh program studi ilmu politik FISIP UIN Ar-Raniry mengenai “Interseksionalitas dalam Isu Gender dan Keadilan Sosial di Aceh” sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang isu-isu gender di masyarakat kita. Pembicara utama, Dessy Setiawati, dengan tepat menekankan bahwa perubahan pandangan masyarakat harus dimulai dari individu.
Kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender tidak hanya menjadi tanggung jawab perempuan, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Dengan memberdayakan perempuan melalui pendidikan dan akses terhadap sumber daya, kita dapat menciptakan perubahan yang lebih signifikan dan berkelanjutan.
Selain itu, pandangan Bayu Satria tentang identitas ganda dan kerentanan sosial sangat relevan dalam konteks Aceh. Memahami bahwa privilege dan kerentanan tidak selalu terlihat jelas di permukaan adalah langkah awal untuk menciptakan kebijakan yang lebih inklusif. Diskusi ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mampu menyuarakan pentingnya interseksionalitas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita semua memiliki tanggung jawab untuk mendukung upaya menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara di Aceh.
***Penulis: Muhammad Naufal Rizki
Tinggalkan Balasan