Krusial | Probolinggo — Awal tahun 2025, sebanyak 174 warga Kota Pasuruan terjangkit virus Demam Berdarah Dengue (DBD). Serangan DBD ini sangat menghantui warga Kota Pasuruan. Virus DBD tahun 2025 sangat mengkhawatirkan, karena sepanjang tahun 2024 hanya ditemukan 210 kasus DBD. Sementara itu, hingga Maret 2025 ini, sudah ada lebih dari seratus kasus yang ditemukan.

Temuan DBD menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan, dr. Shierly Marlena, tahun ini memang cukup tinggi. Ini dipengaruhi oleh cuaca yang tidak menentu, kadang hujan dan tiba-tiba panas.

“Cuaca tidak menentu ini menciptakan genangan, sehingga membuat virus DBD lebih mudah berkembang,” katanya.

Kondisi ini bisa terjadi karena faktor lingkungan, sehingga temuan DBD paling banyak menjangkiti anak-anak. Bisa jadi mereka terjangkit nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD saat berada di sekolah atau di tempat bermain.

“Untuk kasus DBD dua tahun ini, alhamdulillah tidak ada penderita DBD di Kota Pasuruan yang meninggal dunia, semuanya sembuh,” kata Shierly saat dikonfirmasi Krusial pada Kamis (28/3/2025).

Menurut pihaknya, Dinkes berupaya mengurangi temuan kasus DBD dengan program satu rumah satu juru pengawas jentik (jumantik). Jumantik bertanggung jawab mengawasi jentik di setiap rumah. Selain itu, pihaknya memaksimalkan program 3M plus, yakni menguras, membuang, mengubur, dan menabur bubuk abate.

“Sehingga virus DBD bisa diputus mata rantainya dan tidak berkembang biak,” pungkasnya. (Prayitno)