Krusial.com — Polemik cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) kembali mengemuka. Para ahli menilai kebijakan ini sangat mendesak untuk segera diberlakukan pemerintah.
Dokter dan Ahli Gizi Masyarakat, Tan Shot Yen, mengingatkan bahaya konsumsi gula berlebih dalam MBDK. Ia menilai, gula tambahan dapat memicu kecanduan sekaligus meningkatkan kadar gula darah secara signifikan.
“Problem dengan imbuhan gula dalam makanan atau minuman itu akan membuat orang kecanduan,” ujar dr. Tan saat diwawancarai RRI, Rabu (10/9/2025). Ia menambahkan, kenaikan gula darah berisiko menimbulkan berbagai penyakit serius.
Menurut Tan, lonjakan gula darah bisa menimbulkan kegemukan, diabetes, hingga resistensi insulin. Kondisi berbahaya ini berujung pada penyakit kronis yang sulit disembuhkan.
“Risiko yang pertama adalah kegemukan udah pasti karena gula ini juga bisa ditimbun,” kata Tan. Ia menegaskan, efek lanjutan dari kondisi tersebut dapat berakhir pada penyakit diabetes.
dr. Tan menekankan penyakit akibat gula tidak mengenal status ekonomi masyarakat. Dampaknya justru menghantam keluarga miskin lebih keras karena tingginya biaya pengobatan jangka panjang.
“Begitu kepala keluarga sakit, maka keluarga itu akan runtuh,” ujar dr. Tan. Ia menambahkan, biaya penyakit kronis tetap membebani meski pemerintah menyediakan jaminan kesehatan BPJS.
Ia juga menegaskan pentingnya edukasi sejak dini mengenai pola makan sehat yang seimbang. Pendidikan gizi di sekolah dinilai menjadi cara efektif membentuk generasi muda lebih sadar.
“Itu sebenarnya kenapa pendidikan gisi di usia sekolah itu menjadi suatu tolak ukur,” kata dr. Tan. Ia menilai reformasi perilaku sehat lebih mudah dilakukan sejak anak-anak dibandingkan orang dewasa.
Sementara itu, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Rani Septyarini menyoroti dampak ekonomi dari konsumsi MBDK. Ia mengingatkan kelompok usia produktif paling rentan terdampak penyakit tidak menular akibat konsumsi gula berlebih.
“Apalagi sekarang minuman berpemanis dalam kemasan itu lebih cenderung dikonsumsi oleh penduduk usia produktif,” ujar Rani saat diwawancarai RRI, Rabu (10/9/2025). Ia menilai absensi akibat sakit dapat langsung menurunkan produktivitas pekerja dalam jangka panjang.
Menurutnya, cukai berperan penting untuk mengoreksi pola konsumsi masyarakat secara berkesinambungan. CELIOS memperkirakan potensi penerimaan alternatif dari kebijakan ini mencapai Rp3,9 triliun per tahun.***
Tinggalkan Balasan