Oleh : Abzio Safati. T

Perjalan yang bermula dari rasa tanggung jawab sebagai seorang guru, dimana aku membawa peserta didik Kelas Exclusive SMAN 1 Kutacane untuk melakukan Field Trip di Balai Penelitian Ketambe.

Saat ini kami dan teman – teman SKM (Sekolah Kita Menulis) di undang oleh FKM (Forum Komunitas Leuser), untuk mengikuti kegiatan pengenalan Lingkungan Hutan Gunung Leuser.

Perjalanan pagi ini di Awali dari kegiatan monitoring lingkungan, kami mulai melangkahkan kaki bersama menapaki hutan yang dalam, ribut suara insek dan burung di hutan, sungguh memberi banyak pengajaran dan pengalaman, menuntun hati mengingat kembali kepada keindahan ciptaan tuhan.

Tidak jarang dalam perjalanan ini banyak di antara kami yang terjatuh, namun tetap bangkit kembali. Mungkin karena motivasi yang tinggi, rasa ingin tahu yang besar, atau ada mimpi yang harus di gali.

Kami berjalan beriringan seperti kupu – kupu yang mengikuti aliran sungai yang deras, mendaki banyak tanjakan dan menyibak semak belukar seperti tiada yang dapat menghentikan kami.

Kami di kenalkan tentang apa saja di hutan ini oleh rekan – rekan dari FKL (Forum Konservasi Leuser), seperti burung rangkong, jamur – jamuran, jenis daun, orang Utan dan kebiasaanya dan berbagai macam flora dan fauna lainya.

Suatu ketika kami bertemu dengan sesuatu yang membuat aku merasa tertarik, aku tidak tau apakah menyebutnya bangkai atau layu. Kami bertemu dengan yang sering di sapa Bunga Bangkai (Amorphophallus Titanum) walau kini tidak memiliki kelopak lagi, bunga tersebut berdiri tegak menyisakan butiran biji di pucuknya.

Dalam Benak ku, ini aneh! mengapa pemangsa serangga ini mati dengan tegak, tidak kah dia begitu hebat? Bukan kah ia memangsa serangga – serangga itu dengan trik dan cara yang sempurna, bahkan mampu hidup sendiri di tengah belantara hutan ini seolah raja.

Ku perhatikan ia begitu lama, aku melihat para serangga mulai menggerogotinya, mulai dari mulut nya yang berbisa hingga ke pangkal batang nya. Kini ia akan menjadi Bangkai seperti namanya, sang pemangsa yang di mangsa, mungkin ini bentuk dari pengorbanan nya atas apa yang ia lakukan, atau rangkaian dari rantai makanan yang tidak bisa di elakan. Sungguh ini adalah sebuah keadilan menurut ku, keadilan yang di adili oleh Alam.

Ini perjalanan yang mendalam, yang mengajarkan kita tentang kesetaraan dimana kita semua sama, semua kita yang di dunia akhirnya akan binasa, namun pencarian pengetahuan ini juga menyadarkan kita agar sebaiknya tidak mati dengan sia – sia, meninggalkan yang bermanfaat dan berguna setidaknya sebagai pertobatan dosa.

Penuh harap untuk diri sendiri, siswa dan pembaca, semoga menjadikan pengalaman ini menjadi pembelajaran untuk menjalani hidup di dunia, terus berusaha menjaga kelestarian Alam kita belajar bekerjasama, menulis, dan terus belajar.

Panjang cerita akhirnya kami kembali camp juga, membawa sisa tawa dan merasa bahagia, dengan keyakinan mendapat ilmu yang berguna bagi diri sendiri, lingkungan dan sesama manusia. Minggu, 25 Februari 2024.***