Sebentar lagi, Safaruddin – Zaman Akli akan menduduki pucuk pimpinan di Aceh Barat Daya. Kalau tidak ada arang melintang, kemungkinan akan dilantik pada bulan depan.
Setelah pasangan ini berhasil keluar sebagai pemenang dengan menyapu bersih kemenangan di seluruh kecamatan. Angka kemenangannya tidak tangung-tanggu 56 persen lebih suara berhasil raih.
Keberhasilan pasangan Safar-Akil yang keluar sebagai pemenang dalam suksesi kepemimpinan Abdya ini, tentu bukan dengan simsalabim.
Dilalui dengan proses panjang, penuh rintangan dan perjuangan yang dihadapi selama Pilkada berlangsung. Untuk meyakinkan publik Abdya pasangan ini mengusung slogan “Arah Baru Abdya Maju”.
Berdasarkan data statistik penduduk Kabupaten Abdya dihuni sekitar 155.000 jiwa. Daerah ini lahir dari ibu kandungnya Kabupaten Aceh Selatan, yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor : 4 Tahun 2002 tanggal 10 April 2002 dengan Ibukotanya Blangpidie.
Perlu dicatat, Abdya lahir di tengah pergulatan konflik yang terjadi di Aceh. Perjuangan melahirkan daerah ini menjadi kabupaten bukan tidak memiliki resiko, terutama para pantia yang terlibat di dalamnya.
Para panitia yang terlibat dalam perjuangan pembentukan kabupaten ini tak kurang mendapat intimidasi dari pihak-pihak yang tak menginginkan daerah otonomi itu lahir. Itu hanya sekelumit kisah, yang tak perlu kita bahas disini.
Abdya saat ini memiliki 152 gampong (desa) yang tersebar di sembilan kecamatan meliputi, Babahrot, Kuala Batee, Kuta Jeumpa, Susoh, Blangpidie, Suaq Setia, Tangan-Tangan, Manggeng dan Lembah Sabil.
Daerah ini dulu dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Aceh Selatan (ketika wilayah ini bersama Aceh Singkil dan Subulussalam tergabung dalam satu kabupaten yaitu, Aceh Selatan).
Hampir semua kebutuhan beras untuk wilayah tersebut, dipasok dari wilayah Pembantu Bupati Blangpidie (yang kini menjadi Kabupaten Abdya).
Era keemasan sebagai lumbung pangan wilayah Blangpidie pernah tercatat selama tiga dekade (1960-1990). Era tersebut membuat kawasan Jalan At-Taqwa menjadi pusat perdagangan beras terbesar dan tersibuk di pantai selatan Aceh kala itu.
Ruko papan yang berjejer di sepanjang kawasan Jalan At-Taqwa, hampir semuanya berjualan beras secara grosiran. Para pembeli datang dari berbagai pelosok mulai dari Labuhan Haji, Meukek, Sawang, Samadua, Tapaktuan, Kandang dan Bakongan. Bahkan ada dari Singkil, dan termasuk dari Darul Makmur, Nagan Raya.
Era pasar besar di Jalan At-Taqwa berangsur-angsur lenyap, ketika memasuki tahun 1990-an. Kemudian, kawasan jalan itu berubah menjadi deretan toko penjual barang kelontong dan hasil bumi.
Kalau pun ada hanya tersisa beberapa satu atau dua toko saja yang menjual beras saat ini. Kita tinggalkan cerita soal romantisme Jalan At-Taqwa sebagai kawasan grosiran beras pantai selatan Aceh.
Dan kita kini kembali ke ‘Arah Baru Abdya Maju’ sebagai slogan yang telah didengungkan pemimpin negeri breuh sigupai periode 2025-2030, Safar-Akil yang terpilih dari hasil pemilihan langsung (Pilsung) Bupati-Wakil Bupati pada 27 Nopember 2024 lalu.
Tentu kita semua sepakat Abdya harus kembali menjadi pemain utama dalam sektor pangan, terutama beras seperti masa lalu. Untuk menjadi daerah ini sebagai lumbung pangan di wilayah pesisir barat Aceh, tidak begitu sulit.
Karena Abdya memilih areal sawah produktif yang cukup luas dan potensial bila digarap secara maksimal dan serius. Berdasarkan data statistik tahun 2017 areal sawah produktif daerah ini mencapai 10.201 hektar.
Kemudian, di tahun 2023 menyusut dan hanya tinggal 8.299 hektar lagi. Sekitar 1.902 hektar sudah berubah fungsi menjadi lokasi perumahan, ruko, dan fasilitas umum lainnya, bahkan termasuk 1.000 hektar diantaranya menjadi areal perkebunan sawit.
Berubah fungsi menjadi perkebunan sawit ini, lantaran areal sawah tersebut selama ini hanya mengandalkan air tadah hujan. Akibatnya, masyarakat tidak bisa menggarap sawah secara maksimal dan hanya bisa tanam setahun sekali. Tentu hasil yang diperoleh sangat sedikit bila dibandingkan dengan sawit.
Buntutnya petani terus merugi, maka mereka kemudian merubah fungsi lahan sawah menjadi areal kebun sawit yang harganya saat ini memang menjanjikan mencapai Rp 2.500/kg.
Untuk tidak terus menyusut areal sawah. Tentu pemerintah kedepan harus mencari solusi dengan formulasi yang jitu. Sehingga, nantinya Abdya akan mampu menjadi lumbung pangan di pantai selatan Aceh.
Maka Langkah yang harus dilakukan Safar-Akil sebagai pemegang kendali pemerintahan Abdya lima tahun kedepan, tentu harus membangun kembali sayap kanan Irigasi Krueng Susoh yang sudah puluhan tahun terbengkalai. Sehingga petani mampu menanam secara intensif areal sawahnya dengan pola tanam tiga kali setahun.
Safar sebagai kader Partai Gerindra, yang merupakan partai penguasa, tentu ia memiliki cukup kapasitas untuk menggarap proyek sayap kanan Irigasi Krueng Susoh ke pemerintah pusat.
Tentu, untuk membangun irigasi sayap kanan tersebut tidak mampu dengan dana APBK dan APBA. Lagi pula irigasi yang dimaksud, tidak termasuk dalam wilayah kerja kabupaten dan provinsi, dan ini merupakan wilayah kerja pemeirntah pusat dibawah Direktorat Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum.
Kalau proyek sayap kanan Irigasi Krueng Susoh yang membutuhkan anggaran ratusan miliyar rupiah itu, terwujud pembangunannya dimasa pemerintahan Safar-Akil. Maka, ribuan hektar areal persawahan tadah hujan yang ada di Kecamatan Jeumpa, Kuala Batee, dan Babahrot, akan menjadi areal sawah produktif dengan pola tanam intensif tiga kali setahun.
Karena sudah didukung dengan sistem pengairan teknis yang mencukupi kebutuhan air sawah. Sehingga produksi gabah petani pertahun akan terjadi peningkatan tiga kali lipat dari yang ada sekarang.
Kalau petani mampu menggarap sawah tiga kali tanam dalam setahun dengan luar areal sawah sekitar 8.229 hektar yang ada saat ini. Dengan rata-rata produksi gabah 7 ton/hektar/musim tanam, maka gabah yang dihasilkan bisa mencapai 172.809 ton pertahun dengan target tiga kali musim tanam setahun.
Dengan perkiraan harga gabah di petani saat ini dikisaran Rp 6.300/kg, maka uang yang dihasilkan dari petani padi mencapai Rp 1,088 triliun lebih pertahun. Kalau dibagi tiga kali musim panen, sehingga uang yang beredar di petani sawah per musim mencapai rata-rata Rp 362,89 miliar lebih. Tentu ini akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah ini luar biasa.
Kemudian, tidak boleh dikesampingkan juga bahwa ribuan hektar sawah di Kecamatan Manggeng dan Lembah Sabil sampai saat ini masih bernasib serupa, belum memiliki sistem pengairan teknis alias masih tadah hujan.
Maka untuk itu, di wilayah ini harus juga dibangun irigasi teknis dengan sumber air Krueng Baru dan Krueng Manggeng. Untuk proyek irigasi ini juga harus melalui dana APBN, karena tidak mampu dengan anggaran yang ada di daerah, sebab membutuhkan biaya ratusan milyar.
Membangun Irigasi Krueng Baru ini sebenarnya bisa berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan. Tentu, pembangunan irigasinya harus menggunakan sistem bendungan besar di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Baru.
Kemudian, bendungan irigasinya dibagi menjadi dua sayap –seperti Irigasi Krueng Susoh– yaitu, sayap kiri untuk Labuhan Haji, Aceh Selatan dan sayap kanan untuk Lembah Sabil dan Manggeng, Abdya.
Dan tentu tidak boleh lagi menggunakan sistem Intake yang ada saat ini, sebab pasokan air ke saluran utama tidak maksimal, bahkan sering terjadi kendala saat terjadi banjir. Karena mulut Intake-nya mengalami penyumbatan dengan batu kerikil bawaan arus aliran sungai.
Bila proyek ini serius digarap harus dirancang dengan fungsi ganda. Yaitu, selain untuk kebutuhan air baku areal persawahan. Bendungan tersebut harus mampu menjadi pembangkit listrik tenaga air (energy hidro).
Sampai sejauh ini memang belum ada penelitian terhadap potensi listrik tengah air yang akan dihasilkan Krueng Baru. Namun, dilihat dari debit air yang lumayan besar dan arus yang cukup kencang, maka dapat diperkirakan potensi listrik yang dihasilkan lumayan besar.
Kalau proyek ini mampu terealisasi, Abdya dan Aceh Selatan akan mendapat keuntungan ganda. Disatu sisi, sukses menjalankan program swasembada pangan dan disisi lain pemasukan setiap tahun secara kontinyu untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan bertambah dari menjual arus listrik. Sukses pangan dan sukses energi.
Untuk mewujudkan dua proyek besar ini, memang tidak bisa simsalabim. Tentu membutuhkan perjuangan dan waktu. Yang terpenting bagaimana bisa meyakinkan pemerintah pusat sehingga para pengambil kebijakan di Jakarta tidak ragu dengan proposal yang kita tawarkan.
Terkait dengan hal ini, maka faktor perencanaan harus disusun dengan rapi dan ilmiah, sehingga para pejabat yang ditemui tidak membuat kening mereka berkerut saat melihat dan membaca proposal yang diajukan.
Bila Safar- Akil mampu mewujudkan program ini, maka nama mereka akan tercatat disepanjang sejarah Abdya, sebagai tokoh yang mampu mewujudkan ‘Arah Baru Abdya Maju’.
Terlepas baik buruknya pemerintah Akmal Ibrahim selama dua periode. Kita akui atau tidak putra kelahiran Gampong Teungoh, Kuala Batee itu, telah mampu merubah rawa Lama Tuha menjadi areal perkebunan sawit rakyat. Yang sebelumnya dikenal sebagai rawa tempat jin buang anak (paya teumpat jeun boh aneuk).
Sekaligus Akmal Ibrahim juga mampu membuka badan jalan selebar 30 meter dengan saluran kiri-kanan 10 meter. Disamping, juga berhasil membuka badan jalan dengan lebar 10 -12 meter yang semuanya terkoneksi dengan jalan utama 3 sebagai prasarana untuk jalan angkutan sawit rakyat ke lokasi pemasaran.
Tentu kita semua sangat menunggu buah karya terbaru dari dua sosok pemimpin Abdya periode 2025-2030 itu. Karena keduanya, juga sudah mengusung slogan “Arah Baru Abdya Maju”.
Sejauh mana mampu diwujudkan slogan tersebut, tentu kita harus memberi waktu dan sekaligus dukungan kepada kedua putra terbaik Abdya tersebut. Pesta sudah usai, kini mari kita bersama membangun negeri tercinta.
***Penulis: Pemimpin Umum AntaranNews.com, Suprijal Yusuf SH.
Tinggalkan Balasan