Komunikasi politik merupakan sebuah proses ketika informasi politik yang relevan ditentukan dari suatu bagian system politik ke bagian lainnya dan diantara system sosial dengan system politik (Althoff, 1989). Komunikasi politik merupakan salah satu fungsi partai politik dalam menyalurkan beragam pendapat dan aspirasi masyarakat serta mengaturnya sedemikian rupa untuk diperjuangkan menjadi kebijakan politik (Budiarjo, 2008).
Sementara itu, komunikator politik adalah orang yang dapat memberi informasi tentang hal-hal yang mengandung makna politik. Komunikator politik menyampaikan pesan politik yang berisi pernyataan baik secara tertulis maupun tidak tertulis, verbal maupun nonverbal, tersembunyi maupun terang-terangan, disadari maupun tidak disadari yang isinya mengandung politik.
Ketua umum partai Gerindra yang juga calon presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dalam konsolidasi akbar di Jakarta International Veldrome menyampaikan serta mengajak para kader partai Gerindra untuk tidak bersikap reaktif saat ada pihak yang memfitnah dan menghina, melainkan membalas fitnah tersebut dengan kebaikan dan kebenaran.
“Pahami, perjuangan kita berada di jalan yang benar. Jangan reaktif, orang mau ngomong apa kita hanya ngomong kebaikan dan kebenaran. Semakin diejek, semakin dihina, kita senyum, the power of smile,”
Pesan politik Prabowo Subianto ini menjadi buah perhatian di tengah masyarakat, pasalnya setelah pidato Prabowo tersebut banyak beredar baliho dan spanduk yang mencirikan pesan pidato nya “Diejek, Difitnah, Dijelekin, Senyumin aja..” kalimat tersebut ditambahkan dengan gambar prabowo dengan senyuman dan mata yang tajam.
Baliho dan spanduk tersebut banyak sudah beredar di daerah-daerah diluar Jakarta, pesan ini tampaknya menarik perhatian banyak masayrakat dan media, sehingga banyak dari mayarakat dan media membahas hal tersebut.
Di sosial media banyak potongan-potongan pidato Prabowo dikemas menarik dan di bagikan oleh banyak akun-akun di dalam sosial media. Jika dilihat dari sosial media Tiktok misalnya terdapat banyak postingan yang isi kontennya adalah pesan Prabowo Subianto “Diejek, Difitnah, Dijelekin, Senyumin aja”.
Salah satu contoh konten yang menggambarkan pesan Prabowo tersebut telah di lihat sebanyak 415 ribu kali di sosial media Tiktok dan di sukai lebih dari 48 ribu dan mendapat 852 komentar dari para pengguna sosial media tiktok, komentarnya pun beragam, kebanyakan berkomentar dengan nada bercanda dan tidak terlalu serius.
Dalam kolom komentar terlihat masyarakat pengguna sosial media Tiktok memberikan perhatiannya ke pesan politik yang disampaikan oleh Prabowo tersebut, dari berbagai komentar kebanyakan komentar menyampaikan pilihannya ke Prabowo dan sebagian lagi melihat gambar Prabowo yang ada di spanduk dan baliho tersebut begitu imut “gemoy” dan membandingkan dengan “Cipung” anak dari Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang banyak di eluh-eluh kan masyarakat karena keimutannya di sosial media.
Elaboration Likelihood Model (ELM)
Elaboration Likelihood Model (ELM) merupakan teori persuasi yang mencoba untuk memprediksi kapan serta bagaimana individu akan terbujuk atau tidak oleh pesan (Littlejohn & Foss, 2012, h.108). Perubahan sikap dapat terjadi melalui dua jalur yakni central route dan peripheral route.
Jika dilihat dari pesan “Semakin diejek, semakin dihina, kita senyum, the power of smile” Prabowo Subianto dalam Pidatonya dalam konsolidasi akbar partai Gerindra dan diterjemahkan “Diejek, Difitnah, Dijelekin, Senyumin aja..” dalam pengaruhnya melakukan persuasi terhadap masyarakat, dan kaitannya dengan metode ELM hemat saya sangat berpengaruh dalam melakukan persuasi kepada masyarakat, karena kita lihat dari berbagai pemberitaan di Media masa yang banyak mengangkat pesan tersebut dan dalam ranah sosial media pesan tersebut menjadi perhatian tersendiri dengan banyak nya yang melihat, menyukai dan berkomentar dalam konten-konten dari pesan Prabowo Subianto. Pesan politik ini juga sesuai dengan metode ELM terutama pada individu peripheral route.
Pemanfaatan sosial media sebagai media penyampaian pesan politik sangat baik untuk dilakukan, dilihat dari sifat sosial media yang cenderung lebih mudah di lihat langsung oleh masyarakat dan menjadi sumber informasi terdekat bagi masyarakat saat ini. Lebih lagi, Penggunaan media sosial di Indonesia mengalami perkembangan pesat. Melansir Data Reportal, di tahun 2023, terdapat total 167 juta pengguna media sosial. 153 juta adalah pengguna di atas usia 18 tahun, yang merupakan 79,5% dari total populasi.
Tidak hanya itu, 78,5% pengguna internet diperkirakan menggunakan paling tidak 1 buah atau akun media sosial. Nilai ini digadang-gadang akan terus bertambah di tahun-tahun yang akan datang. Hal ini juga harus cepat di lihat oleh tim Prabowo Subianto dalam melakukan efektivitas penyampaian pesan politik Prabowo Subianto kepada masyarakat Indonesia.***
Tinggalkan Balasan