Krusial | Malang — Demi memenuhi target pengentasan kemiskinan dari pemerintah pusat dan daerah, Desa Bantur kembali menjalankan program bedah rumah gratis tak layak huni. Sasaran program ini adalah warga pra sejahtera di seluruh desanya.

Kepala Desa Bantur Nanang Kosim mengungkapkan program bedah rumah ini adalah program pengentasan kemiskinan dengan skema gotong royong bekerja sama dengan sejumlah warganya dengan cara swadaya.

“Ini salah satu bentuk gotong royong swadaya masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan yang menjadi program prioritas kami. Bantuan bedah rumah ini melengkapi berbagai program pengentasan kemiskinan yang sudah berjalan, melalui mekanisme gotong royong antara pemerintah kabupaten, TNI, pemerintah desa, swasta, dan pemerintah pusat,” kata Nanang, Kamis (2/5/2025).

Nanang menambahkan, bedah rumah di Desa Bantur Kecamatan Bantur ini sudah berjalan dan telah berhasil menyulap 3 rumah kurang layak menjadi layak huni. Namun, karena kami menemukan lagi rumah tidak layak huni maka ada penambahan 1 unit lagi tahun ini.

“Jumlah ini bisa terus bertambah sesuai pengajuan dari dusun. Bantuan bedah rumah adalah salah satu upaya untuk meningkatkan taraf kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Terima kasih kepada seluruh pihak yang ikut berkontribusi,” lanjutnya.

Menurutnya nilai moral tertinggi dalam mengemban amanah adalah pemerintahan, baik dari sisi infrastruktur ataupun sosial, pasalnya di Desa Bantur itu ada Lima dusun dan 74 rt sehingga untuk mencapai pemerataan tersebut butuh waktu serta anggaran yang sangat besar.

“Kalau kita lihat dari geografis maka desa bantur sangat luas. Terlepas dari itu kami bersama pemerintah Desa Bantur akan terus berupaya sebisa mungkin untuk mewujudkan impian bangsa,” imbuhnya.

Dengan adanya geografis yang sangat luas pihaknya berharap agar Pemerintah Daerah, Provinsi sampai Pusat ikut peduli mengintip pertanian kami. Kami mempunyai lahan sawah produksi sekitar 150 Hektare pada tahun 2019. Namun, dampak jebolnya Dam Bantur 1 karena bencana alam pada tahun 2019 maka pertanian kami terutama padi terus merosot. Sebagai upaya untuk membantu pengairan pertanian kami masih mengandalkan air hujan.

“Kalau saya harus menghadap dan bersimpuh saya lakukan. Kasian masyarakat yang dulunya bertani padi kini lahan sebagian sudah mati suri, besar harapan kami semoga Dam 1 Bantur segera mungkin di prioritaskan,” pungkasnya. (Prayitno)