Krusial.com — Warga di Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan, mengeluhkan kondisi jalan lintas provinsi yang hingga kini belum kunjung diaspal setelah sebelumnya dilakukan pengerukan oleh pihak terkait dari pekerjaan jalan di bawah kewenangan Pemerintah Aceh.
Keluhan tersebut disampaikan warga pada Minggu (17/5/2026). Mereka menilai pekerjaan jalan tersebut berjalan lamban karena sudah hampir satu bulan sejak dilakukan pengerukan, namun belum terlihat adanya perbaikan signifikan di lokasi.
Akibat kondisi jalan yang dibiarkan terbuka dan berdebu, masyarakat mengaku resah. Debu yang beterbangan setiap hari dinilai mengganggu kesehatan, kenyamanan, serta aktivitas ekonomi warga yang tinggal dan berusaha di sepanjang jalan tersebut.
Salah seorang warga terdampak, M. Amin, mengatakan kondisi jalan tersebut sangat merugikan masyarakat, terutama warga Desa Kuta Buloh II, Desa Blang Bladeh, dan Desa Kuta Baro, Kecamatan Meukek.
“Kami sangat kecewa. Jalan sudah dikeruk, tapi sampai sekarang belum juga diaspal. Debu masuk ke rumah dan tempat usaha kami setiap hari,” ujar M. Amin.
Menurut warga, dampak debu paling dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang berada di pinggir jalan lintas provinsi tersebut, seperti penjual air minum isi ulang, pemilik kedai sembako, dan usaha masyarakat lainnya.
Sebagai bentuk protes, warga bahkan sempat melakukan blokade agar kendaraan yang melintas memperlambat laju kendaraan. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi debu yang beterbangan akibat kendaraan yang melaju di atas jalan yang belum diaspal.
Warga juga menyoroti pekerjaan pengaspalan yang dinilai tidak merata. Mereka menyebut pengaspalan hanya dilakukan pada bagian tertentu, sementara ruas jalan di depan permukiman warga masih dibiarkan berdebu.
“Aneh, pengaspalan hanya dilakukan di bagian jembatan saja. Sementara di depan rumah warga dibiarkan berdebu. Pekerjaan ini terkesan buruk,” tambahnya.
Warga meminta Pemerintah Aceh melalui instansi teknis terkait segera menyelesaikan pekerjaan tersebut agar tidak terus menimbulkan dampak bagi masyarakat sekitar.
Mereka juga memperingatkan, apabila kondisi tersebut terus berlarut-larut dan jalan tak kunjung diaspal, warga akan menuntut pertanggungjawaban atas dampak lingkungan yang ditimbulkan dari pekerjaan jalan tersebut.
“Mereka harus bertanggung jawab atas dampak yang dirasakan masyarakat,” tegas warga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait belum berhasil dimintai keterangan mengenai kelanjutan pekerjaan jalan lintas provinsi di Kecamatan Meukek tersebut.***
Tinggalkan Balasan