Krusial.com — Hampir setahun setelah banjir bandang menerjang Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, warga Desa Kuta Teungoh hingga kini masih menghadapi persoalan air bersih. Akses air untuk kebutuhan sehari-hari disebut belum kembali normal.
Pelita mengatakan, persoalan air bersih dirasakan warga sejak banjir besar yang melanda kawasan tersebut pada 26 November 2025. Hingga kini, masyarakat masih harus mencari sumber air secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kami tiap hari mendengar keluhan dari masyarakat mengenai air bersih. Sejak banjir, kami belum memperoleh pelayanan air bersih dengan baik. Masyarakat di sini berusaha masing-masing untuk mendapatkan air,” kata Pelita dalam keterangannya diterima Krusial, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, kemampuan ekonomi turut menentukan akses warga terhadap air bersih. Sebagian warga yang mampu membeli selang dapat mengambil air dari sumber yang lokasinya cukup jauh, sedangkan masyarakat kurang mampu mengalami kesulitan lebih besar.
“Kalau ada kemampuan membeli selang, mungkin sebagian orang bisa mendapatkan air yang layak. Tapi kalau ekonominya lemah, mereka kesulitan memperoleh air bersih karena sumber air cukup jauh,” ujarnya.
Kondisi tersebut, kata Pelita, mulai semakin dikeluhkan warga karena kebutuhan air diperkirakan meningkat menjelang pelaksanaan Maulid Nabi di desa tersebut.
“Ini belum ada kegiatan apa-apa saja masyarakat sudah mulai mengeluh karena kekurangan air. Apalagi nanti menjelang Maulid Nabi, kebutuhan air di desa mungkin semakin meningkat,” katanya.
Pelita berharap pemerintah segera memberikan solusi terhadap persoalan yang telah berlangsung berbulan-bulan tersebut. Menurutnya, masyarakat membutuhkan akses air bersih yang layak dan dapat digunakan secara normal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Persoalan itu dinilai semakin mendesak karena masyarakat Kuta Teungoh masih berada dalam tahap pemulihan setelah kehilangan permukiman akibat bencana. Sebagian warga hingga kini masih tinggal di hunian sementara (huntara) yang disediakan pemerintah.
Banjir bandang yang menerjang Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang pada akhir 2025 menyebabkan sejumlah kawasan permukiman mengalami kerusakan parah. Desa Kuta Teungoh dan Babah Suak menjadi dua wilayah yang terdampak paling parah hingga sebagian besar bangunan di kawasan tersebut rusak atau tersapu banjir.
Ratusan warga terdampak kehilangan tempat tinggal dan harus direlokasi ke kawasan perbukitan karena permukiman lama dinilai tidak lagi memungkinkan untuk ditempati seperti sebelumnya.
Pemerintah kemudian menyediakan huntara bagi masyarakat terdampak. Namun, di tengah proses pemulihan tersebut, persoalan ketersediaan air bersih masih menjadi salah satu kebutuhan utama yang diharapkan segera mendapatkan penanganan. ***
Tinggalkan Balasan