Krusial.com – Pernyataan seorang penceramah asal Jawa Tengah yang mengaitkan bencana alam di Aceh dengan isu permintaan kemerdekaan menuai respons dari kalangan ulama di Aceh Selatan. Salah satunya datang dari Abuna Tgk. H. Mohd Ja’far Amja, S.Hi, Pimpinan Dayah Sirajul Ibad, Rottengoh, Kecamatan Meukek, yang menilai pernyataan tersebut keliru dan tidak bijak disampaikan di ruang publik.
Abuna menegaskan, menghubungkan musibah banjir bandang dan longsor di Aceh dengan narasi “laknat” dan isu politik adalah sikap yang tidak berdasar serta berpotensi melukai masyarakat yang sedang tertimpa bencana. Menurutnya, dalam ajaran Islam, musibah adalah ujian dari Allah SWT, bisa menjadi peringatan atau sarana peningkatan derajat keimanan, namun tidak boleh digunakan untuk menghakimi suatu daerah dengan tuduhan politik atau dosa kolektif.
Ia juga mengingatkan bahwa Aceh saat ini berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan masyarakat tengah fokus pada pemulihan pascabencana, bukan pada wacana yang dapat memecah belah persatuan umat. “Saat terjadi bencana, yang dibutuhkan adalah empati, doa, dan bantuan nyata, bukan stigma,” tegasnya.
Sebagai Pimpinan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Selatan, Abuna mengajak para dai, ulama, dan tokoh agama di seluruh Indonesia untuk menjadikan mimbar dakwah sebagai sarana menyejukkan umat, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan memperkuat persaudaraan kebangsaan. Ia menilai penting melihat faktor-faktor objektif penyebab bencana, seperti kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan krisis ekologi, yang memerlukan tanggung jawab bersama.
Abuna juga mengingatkan pentingnya sikap tabayun dan menjaga adab dalam menyampaikan pendapat, terutama ketika menyangkut daerah yang sedang dilanda musibah. Jika terjadi kekeliruan dalam pernyataan, menurutnya sikap terbaik adalah melakukan klarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mendoakan Aceh agar diberi kekuatan, kesabaran, dan perlindungan Allah SWT, serta menjadikan musibah ini sebagai momentum memperbaiki hubungan manusia dengan alam dan sesama.***
Tinggalkan Balasan