Krusial.com — Bencana banjir besar yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat terdampak. Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menetapkan status darurat bencana pada tingkat daerah.

Meski keputusan itu mendapat dukungan publik, berbagai pihak menilai skala kehancuran akibat banjir ini tidak layak hanya dikategorikan sebagai bencana daerah. Desakan agar pemerintah pusat menetapkan status darurat bencana nasional semakin menguat, mengingat masifnya dampak dan luasan wilayah yang porak-poranda.

Hingga kini, lebih dari 601.000 jiwa terpaksa mengungsi, dari jutaan penduduk yang terdampak. Sementara 604 orang meninggal dunia dan 464 lainnya masih hilang.

Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (2/12/2025), Aceh mencatat angka pengungsi tertinggi, mencapai 473.000 jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Kabupaten Aceh Utara.

Jumlah korban meninggal di Aceh naik menjadi 156 jiwa, sedangkan 181 orang masih dinyatakan hilang. Para korban tersebar di 16 kabupaten/kota, termasuk Aceh Tengah, Bener Meriah, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Besar, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, dan Aceh Selatan.

Kondisi semakin memprihatinkan karena hampir seluruh jalur transportasi utama di Aceh terputus total. Akses antarprovinsi dan penghubung antar kabupaten seperti Bireuen–Takengon lumpuh. Sejumlah desa juga masih terisolasi. Pemadaman listrik dan gangguan jaringan internet terjadi di banyak wilayah sejak bencana meluas.

Di Sumatera Utara, BNPB melaporkan lebih dari 33 ribu jiwa mengungsi. Korban meninggal dunia mencapai 283 orang, tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, Humbang Hasundutan, Mandailing Natal, hingga Nias. Sebanyak 173 orang masih dalam pencarian.

Sementara di Sumatera Barat, total pengungsi mencapai 122.683 jiwa. Korban meninggal dunia tercatat 165 jiwa, dan 114 lainnya belum ditemukan. Ratusan ribu warga mengungsi dari Kabupaten Agam, Tanah Datar, Pesisir Selatan, Pasaman, hingga Kota Padang.

Sejak gelombang banjir besar melanda, bantuan logistik terus dikerahkan melalui jalur udara dan laut, termasuk pasokan makanan, air bersih, kasur, obat-obatan, serta kebutuhan darurat lainnya.

BNPB, TNI/Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga mitra internasional kini bekerja tanpa henti mempercepat pencarian korban, membuka akses wilayah terisolasi, memulihkan layanan dasar, serta menyalurkan bantuan ke daerah yang sebelumnya tidak dapat dijangkau. ***