Krusial.com — Ribuan ton gula petani di Lumajang belum terjual. Komoditas tersebut kini menumpuk di gudang milik Pabrik Gula (PG) Jatiroto, Lumajang, sebanyak 8.000 ton.
Gula petani tersebut merupakan hasil produksi tebu yang proses penjualannya ke masyarakat dilakukan dengan cara dilelang.
Asisten Manajer Keuangan PG Jatiroto, Kharisma Desy, mengatakan bahwa gula petani tersebut belum laku terjual karena stok gula di pasaran melimpah. Padahal, pihaknya telah melakukan lelang hingga 7 kali.
“Sampai saat ini, ada 8.000 ton gula petani yang belum terserap. Sudah 7 kali lelang, belum laku, dan saat ini masih menumpuk di pabrik gula,” ujar Desy kepada awak media pada Minggu (17/8/2025).
Karena hal ini, lanjut Desy, pihaknya kini kekurangan stok gudang untuk menyimpan gula. Sebab, saat ini hampir seluruh gudang masih dipenuhi stok gula yang belum laku.
Terpisah, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Dwi Irianto menyampaikan bahwa produksi gula di Jawa Timur menyumbang hampir 40 persen dari kebutuhan gula nasional.
Namun, gula hasil produksi petani saat ini banyak tertahan di gudang karena sulit dijual. Tak hanya di Lumajang, tetapi juga di Bondowoso, Jember, Sidoarjo, dan Malang.
Kondisi ini diperparah dengan banyaknya gula rafinasi impor dan gula berbahan baku non-tebu yang memenuhi pasar konsumsi, sehingga persaingan semakin ketat.
“Kami menghadapi kesulitan besar karena gula tidak keluar (terjual) dari gudang. Karena banyaknya gula kristal rafinasi di pasaran dengan harga lebih murah, yakni Rp11.000 sampai Rp12.000,” ujar Dwi.
Petani pun banyak mengeluhkan kondisi saat ini karena biaya produksi terus meningkat, mulai dari pupuk non-subsidi, sewa lahan, hingga ongkos tebang dan angkut yang kini mencapai Rp17.500 per ton. Sementara itu, petani mengharapkan harga gula dapat terjual minimal Rp14.500 per kilogram.
“Pedagang tidak mau beli karena kondisi gula jenuh. Belum lagi harga gula rafinasi cukup rendah,” terangnya.
Dwi menyebut bahwa produksi gula Jawa Timur hampir menyentuh 1 juta ton lebih dan sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan Jawa Timur sendiri. Sehingga, sisanya kini dibutuhkan untuk bisa terjual di luar.
“Kebutuhan Jawa Timur secara keseluruhan dalam satu tahun kurang lebih 400 ribu sampai 500 ribu ton. Jika produksi gula Jawa Timur 1 juta ton, maka sisanya yang kini menumpuk di gudang,” sebutnya.***
Tinggalkan Balasan