Krusial | Banyuwangi — Ancaman perang dagang antara Amerika Serikat dan China mulai membuat para produsen usaha tahu dan tempe di Jawa Timur was was. Pelaku usaha kecil di Kabupaten Banyuwangi khawat harga kedelai impor melonjak seperti yang pernah terjadi dua tahun lalu.

Dari pantauan Krusial di Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Genteng, Banyuwangi ada produsen tahu milik Mifa Miftahul Jannah. Ia mengaku was-was harga kedelai kembali tembus Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per kilogram. Kondisi itu sempat dialaminya pada 2023. Kami khawatir peperangan dagang Amerika dan China nanti berdampak pada kenaikan harga kedelai.

“Kalau itu benar terjadi, kami produsen tahu tempe pun akan bingung. Sudah kami gak ada untung, menurutnya dulu sempat harga Rp 14.000 itu kami tutup beberapa hari,” kata Mifa Miftahul Jannah, produsen tahu asal Dusun Cangaan, Selasa

Mifa menjelaskan tahu produksinya menggunakan 100% kedelai impor. Meski lebih mahal dibanding kedelai lokal, kualitasnya dinilai lebih bersih dan tanpa limbah. Sebab itu, hampir seluruh perajin tahu dan tempe di dusunnya lebih memilih kedelai impor.

Ia menambahkan saat harga kedelai melonjak, pihaknya mengaku sulit mendapatkan untung karena tidak bisa serta-merta menaikkan harga tahu.

“Kita sampai tutup itu karena kan kita mau cari solusi mau naikkan harga tahu atau gimana karena khan kalau harga tahu itu mahal orang itu kurang minat,” imbuhnya.

Sementara saat ini, harga kedelai impor berada di angka Rp 9.900 per kilogram, naik Rp 900 dibanding harga pada Januari 2025. Dia menceritakan dalam sehari menghabiskan sekitar 100 kilogram kedelai untuk memproduksi ratusan potong tahu, yang dijual ke pengecer seharga Rp 500 per potong.

“Harapannya ke pemerintah semoga harga kedelai jangan naik lagi, tetap stabil di harga Rp 8 ribu atau Rp 9 ribu itu. Karena ini juga sudah ada kode dari agen bahwa harga kedelai akan naik lagi, kalau itu sampai terjadi khan bisa naik terus harganya itu,” terang Mifa.

Rochman, salah satu produsen tempe di Dusun Cangaan juga menceritakan hal senada. Ia juga berharap harga kedelai tidak kembali naik.

“Sudah normal ini segini saja jangan naik lagi, bingung kalau naik nanti ukuran tempenya saya kecilkan aja,” tutup Rochman. (Prayitno)