Krusial.com — mengecam kebisingan yang diduga berasal dari aktivitas operasional PLTU Nagan Raya dan kini disebut telah terdengar hingga ke lingkungan kampus.
Menurut Herli, persoalan tersebut tidak lagi dapat dianggap sebagai keluhan biasa karena telah berulang kali disuarakan masyarakat dan kini mulai berdampak terhadap aktivitas pendidikan.
“Ini bukan sekadar asumsi atau isu yang dibuat-buat. Sudah banyak video keluhan masyarakat yang beredar. Bahkan kami sendiri mendokumentasikan kondisi di lingkungan kampus saat proses belajar berlangsung. Fakta bahwa suara tersebut dapat terdengar hingga ke kawasan pendidikan harus menjadi alarm serius bagi perusahaan dan pemerintah,” ujar Herli di Meulaboh, Jumat (12/6/2026).
Ia menilai, jika selama ini keluhan masyarakat belum cukup untuk mendorong evaluasi menyeluruh, maka terganggunya aktivitas pendidikan seharusnya menjadi peringatan bahwa persoalan tersebut telah memasuki tahap yang lebih serius.
“Selama ini masyarakat sudah bersuara. Video-video keluhan sudah banyak beredar. Hari ini mahasiswa juga merasakan dampaknya. Pertanyaannya, sampai kapan keluhan-keluhan ini akan dianggap angin lalu?” tegasnya.
Herli menegaskan bahwa perusahaan tidak boleh mengabaikan keresahan yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, keberadaan industri harus tetap berjalan beriringan dengan kepentingan masyarakat, lingkungan, dan dunia pendidikan.
“Kami tidak menolak investasi, tetapi investasi yang baik adalah investasi yang menghormati masyarakat di sekitarnya. Jangan sampai keuntungan perusahaan dibayar dengan terganggunya kenyamanan warga dan rusaknya suasana belajar mahasiswa,” katanya.
BEM UNCM juga mendesak pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup, dan pihak terkait untuk segera melakukan investigasi serta pengukuran tingkat kebisingan secara terbuka dan independen.
“Jangan tunggu sampai kemarahan publik semakin besar. Jangan tunggu sampai mahasiswa turun ke jalan. Pemerintah harus hadir dan memastikan bahwa aktivitas industri tetap berada dalam koridor yang tidak merugikan masyarakat maupun dunia pendidikan,” ujar Herli.
Menurutnya, kampus merupakan ruang strategis yang melahirkan generasi penerus dan calon pemimpin masa depan. Karena itu, kenyamanan serta kualitas proses pendidikan harus menjadi perhatian bersama.
“Kalau suara bising industri sudah mengalahkan suara dosen di ruang belajar, maka ada yang salah dan harus segera diperbaiki. Pendidikan tidak boleh menjadi korban. Kampus tidak boleh dipaksa beradaptasi dengan gangguan yang seharusnya bisa dicegah,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Herli meminta manajemen PLTU Nagan Raya agar tidak menganggap remeh kritik dan aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat.
“Jangan hanya mendengar ketika masyarakat berteriak lebih keras. Hari ini bukti-bukti sudah ada, keluhan masyarakat sudah banyak, dokumentasi dari kampus juga ada. Yang dibutuhkan sekarang adalah tindakan nyata, bukan pembiaran. Ketika masyarakat mengeluh mungkin masih dianggap biasa, tetapi ketika kampus ikut mengeluh, seharusnya semua pihak mulai sadar bahwa persoalan ini tidak lagi bisa disembunyikan di balik suara mesin,” pungkasnya.***
Tinggalkan Balasan