Krusial.com — Petani di Desa Kedungrejo, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang, telah lama memanfaatkan pupuk organik dalam bertani. Pupuk tersebut berbahan dasar kotoran dan urine sapi.

Ketua P4S Asri Farm, Mohammad Dahlan, mengungkapkan bahwa penggunaan pupuk dari kotoran sapi telah berlangsung sejak lima tahun lalu, sejak awal mereka mengelola hingga menjadi pupuk Gendruwo.

“Jadi, penggunaan kotoran sapi yang kami kelola hingga menjadi pupuk Gendruwo,” ujar Dahlan pada 7 September 2025.

Ia menegaskan bahwa mayoritas petani di Desa Kedungrejo mengandalkan pupuk organik, khususnya kotoran sapi, yang dinilai aman untuk konsumsi masyarakat. “Tergantung dari tanaman, tapi di Desa Kedungrejo didominasi pupuk alami organik, yaitu pupuk Gendruwo, karena lahan kami tidak berpindah-pindah,” tambahnya.

Dahlan menjelaskan bahwa hasil panen mereka dijual di Pasar Rowokangkung, Kabupaten Lumajang, dan kadang masyarakat datang langsung ke lahan. Namun, ia mengakui bahwa faktor cuaca, khususnya hujan, sering memengaruhi harga buah atau sayur. “Kalau hujan, harga buah atau sayuran melonjak tinggi karena sayuran jadi busuk. Tapi selama puasa, sayuran justru murah,” imbuhnya.

Ia juga mencatat adanya penurunan pembeli untuk komoditas buah melon selama periode tersebut. Meski pernah menerima bantuan pupuk NPK, Dahlan mengaku petani di Desa Kedungrejo tidak menggunakannya. “Struktur tanah di sini tidak cocok, terasa keras,” ungkapnya.

Menurutnya, saat pertama dan kedua kali menggunakan NPK, hasil panen masih baik. Namun, pada penggunaan ketiga, tanaman justru layu seperti mati. “Kami tidak tahu pasti penyebabnya, apakah tanah sudah tidak gembur lagi. Akhirnya kami kembali ke pupuk kandang,” jelas Dahlan.

Penyuluh Pertanian Lapangan, Heru Afandi, S.P., menyambut baik inisiatif petani Desa Kedungrejo dalam memanfaatkan pupuk organik dari kotoran sapi, yang dikenal sebagai pupuk Gendruwo. Menurut Heru, pupuk ini sangat cocok untuk lahan pertanian di Rowokangkung karena mampu memperbaiki tekstur tanah yang memiliki tingkat keasaman tinggi. “Pupuk Gendruwo bisa memperbaiki tekstur tanah. Untuk tanaman melon, umur panennya cepat, ini baru umur 52 hari, jadi tidak perlu dipacu dengan pupuk kimia,” kata Heru kepada Krusial, Minggu (7/9/2025).

Ia menambahkan bahwa melon yang dihasilkan minim kontaminasi pestisida, sehingga aman untuk dikonsumsi masyarakat. Heru menegaskan bahwa pihaknya sedang berupaya mengubah pola pikir petani agar tidak bergantung pada pupuk kimia.

“Kami pelan-pelan mengubah mindset petani supaya tidak tergantung pada pupuk kimiawi,” ujarnya. Ia juga menyoroti mahalnya harga pupuk NPK non-subsidi. “Bayangkan selisihnya dengan hasil panen. Kalau petani pintar memanfaatkan limbah atau pupuk kompos, itu jauh lebih hemat,” tambahnya.

Di Kedungrejo, ada pula petani yang sukses menanam cabai dengan memanfaatkan limbah organik. “Awalnya mereka mengolah lahan dengan limbah, sehingga penggunaan NPK bisa ditekan,” ungkap Heru.

Salah satu petani cabai di desa tersebut bahkan mampu memanen hingga 30 kali dalam satu siklus produksi. “Harga cabai kemarin bisa mencapai Rp 100.000 per kilogram. Dengan pupuk kotoran hewan, mereka bisa untung besar tanpa banyak menggunakan NPK,” tandasnya.***

(PRAYITNO)