Krusial | Banda Aceh — Pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Aceh mendapat sorotan dari WALHI Aceh. Direktur Eksekutif WALHI Aceh, Ahmad Shalihin dalam program Mozaik Indonesia Minggu (13/4/2025) menyatakan bahwa, pengelolaan yang kurang baik menyebabkan tingginya bencana ekologis seperti banjir dan longsor di kawasan tersebut.
Menurut Shalihin dalam dialog RRI sore itu, kawasan TNGL seharusnya menjadi pelindung utama keanekaragaman hayati, namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. “Jika kita ingin melihat ekosistem yang sehat, lihat saja sungainya. Jika airnya keruh saat musim hujan, berarti ada masalah,” ujarnya.
Shalihin juga menyoroti kawasan penyangga TNGL, yang seharusnya dikelola dengan sistem zonasi jelas: zona konservasi penuh, zona pemanfaatan terbatas, dan zona budaya. Namun, saat ini pengelolaannya dinilai tidak bertanggung jawab dan belum diatur secara tegas dalam kebijakan tata ruang.
WALHI mendorong agar kawasan ekosistem Leuser dan zona penyangganya diakui secara formal dalam peraturan tata ruang provinsi. Ia menambahkan bahwa konservasi tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi perlu kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swasta.
“Jika pemerintah daerah dan pusat punya komitmen kuat, maka pendanaan internasional untuk konservasi bisa dengan mudah masuk,” tutup Shalihin.***
Tinggalkan Balasan