Krusial.com — Keberadaan industri mineral di Menggamat hingga hari ini menjadi persoalan yang sangat genting. Eksploitasi yang dilakukan oleh industri secara masif telah menciptakan kegamangan di kalangan masyarakat lokal. Persoalan ini seperti tidak memiliki solusi dan terus-menerus memunculkan polemik terkait lahan perkebunan, sungai, kerentanan bencana alam, kerusakan hutan, dan pergeseran sosial masyarakat yang berada di ujung tanduk.
“Masyarakat tidak mendapatkan apa-apa selain ancaman ekonomi bagi petani dan nelayan, kerentanan bencana karena kerusakan alam, serta konflik sosial horizontal akibat pro-kontra atas keberadaan industri,” kata pemuda Menggamat, Irvan dalam keterangan tertulis yang diterima Krusial.com pada Minggu (7/9/2025).
Menggamat sejak dahulu kala dikenal sebagai tanah yang subur dan menjadi label komunitas masyarakat berbasis pertanian dan hasil hutan. Selama ratusan tahun, tanah ini hidup dan tumbuh dengan keasrian alam.
Namun, sejak hadirnya industri mineral di area hulu, tanah ini seperti hidup tanpa ruh. Kami telah merasakan berbagai kerugian ekonomi dan sosial selama puluhan tahun. Sungai yang tercemar, gagal panen, konflik masyarakat, dan kesehatan yang menurun menjadi bayang-bayang hitam yang menghiasi cita-cita masyarakat Menggamat.
“Untuk kesekian kalinya, gejolak industri itu menjadi masalah sosial yang hadir memecah harmoni masyarakat. Mirisnya lagi, pernyataan Ketua Barisan Muda Aceh (BMA) dalam rilisnya pada 7 September 2025 menyatakan dukungan pada salah satu raksasa industri di Menggamat, PT BMU yang beberapa waktu lalu digugat oleh masyarakat,” ungkap Irvan, pemuda Menggamat.
Lanjut Irvan, pernyataan tersebut menimbulkan kegaduhan sekaligus kebimbangan di kalangan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi apa yang dimaksud? Lapangan pekerjaan untuk siapa? Investasi untuk siapa? Selama bertahun-tahun, kami tidak melihat argumen tersebut hadir dalam kehidupan masyarakat.
Bahkan, di luar akses pengetahuan yang terbatas, kami justru mempertanyakan sosok ketua BMA yang bersuara ini sebagai siapa? Apakah beliau tahu kondisi masyarakat? Apakah beliau pernah hidup di lingkar industri itu? Atau jangan-jangan sosok yang memberikan pernyataan tersebut adalah orang yang jauh secara wujud dan kultural dari masyarakat Menggamat.
“Sudahi dramatisasi atas angan-angan pembangunan yang tidak berdasar. Menggamat bukan tanah kosong. Jangan pernah berbicara tentang persoalan kami ketika bercinta dengan kekuasaan dan korporasi. Kami berdiri untuk tanah tempat kami lahir dan mati,” tegas Irvandi.***
Tinggalkan Balasan