Krusial.com – Pemerintah Aceh resmi mengusulkan minyak nilam Aceh sebagai salah satu komoditas dalam Sistem Resi Gudang (SRG) kepada Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan RI di Jakarta.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr. Nurlis Effendi, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah melindungi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani nilam di Aceh.
“Ini bagian dari upaya Pemerintah Aceh untuk melindungi dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani nilam,” kata Nurlis Effendi di Banda Aceh, Jumat (21/8/2026).
Gubernur Aceh Muzakir Manaf meminta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Teuku Adi Darma, mengawal proses penetapan minyak nilam Aceh sebagai komoditas SRG.
Proposal tersebut diserahkan langsung oleh Adi Darma didampingi Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Aceh, Marzuki. Dokumen diterima Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang Komoditas Bappebti, Diah Sandita Arisanti.
Penyerahan proposal turut disaksikan Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Kementerian UMKM RI, Mety Kusmayanti.
Sejumlah pemangku kepentingan dalam ekosistem nilam Aceh juga terlibat, di antaranya Bank Aceh Syariah, Kadin Aceh, Bank Syariah Indonesia (BSI), Universitas Samudra, PT Pembangunan Aceh (PEMA), serta PT Razma Agro Jayana selaku pihak pemohon.
Instrumen Perlindungan Petani
Kepala Disperindag Aceh, Adi Darma, mengatakan Gubernur Aceh berharap Bappebti dapat segera menetapkan minyak nilam Aceh sebagai komoditas SRG.
“Gubernur Mualem mengharapkan agar Bappebti segera menetapkan minyak nilam Aceh sebagai komoditas SRG. Ini menyangkut hajat hidup ribuan petani nilam di Aceh,” ujarnya.
Menurut Adi, minyak nilam merupakan salah satu komoditas unggulan Aceh. Ia menilai ekosistem komoditas tersebut saat ini semakin lengkap dan dinilai siap diintegrasikan ke dalam skema SRG.
Bagi pemerintah, SRG diharapkan dapat menjadi instrumen yang membantu petani dan pelaku usaha dalam mengelola komoditas sekaligus memperkuat posisi ekonomi mereka.
“Instrumen ini sangat dinantikan petani dan para pelaku usaha sebagai penyangga utama ekonomi mereka. Inilah wujud tugas kita dalam melindungi petani melalui instrumen yang ada,” katanya.
Didukung Pembiayaan Perbankan
Pengembangan ekosistem nilam tersebut juga mendapat dukungan Kementerian UMKM melalui pendampingan dan fasilitasi pembiayaan.
Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Mety Kusmayanti, mengatakan pihaknya memberikan pendampingan khusus terhadap ekosistem nilam Aceh.
Dukungan tersebut antara lain diwujudkan melalui kerja sama dengan PT Razma Agro Jayana sebagai holding UMKM nilam Aceh serta fasilitasi pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Kami berharap program SRG ini dapat segera terealisasi,” kata Mety.
Dukungan juga datang dari sektor perbankan. Kadiv UMKM Bank Aceh Syariah, Ziaur Rahmah, mengatakan komoditas minyak nilam menjadi salah satu target pembiayaan dalam waktu dekat.
Sementara itu, perwakilan Tim Mikro Business Group BSI Pusat, Irwan, menyatakan kesiapan BSI mendukung pengembangan program tersebut.
Kolaborasi lintas lembaga ini diharapkan dapat membangun ekosistem nilam yang lebih kuat, mulai dari produksi, pengolahan, pembiayaan hingga pemasaran.
Bappebti Dorong Percepatan
Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan SRG Bappebti, Diah Sandita Arisanti, mengapresiasi inisiatif Pemerintah Aceh bersama para pemangku kepentingan dalam mendorong minyak nilam masuk ke dalam skema SRG.
Bappebti, kata Diah, berkomitmen mempercepat proses tersebut.
“Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah bisa dijalankan,” katanya.
Jika proses penetapan berjalan sesuai harapan, masuknya minyak nilam Aceh ke dalam Sistem Resi Gudang akan menjadi langkah penting dalam memperkuat tata kelola komoditas sekaligus memberikan instrumen yang lebih baik bagi petani dalam menghadapi dinamika harga dan kebutuhan pembiayaan.
Bagi Aceh, kebijakan tersebut bukan sekadar soal memasukkan satu komoditas ke dalam sistem perdagangan, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekosistem nilam yang mampu memberikan nilai tambah lebih besar kepada petani dan pelaku usaha di daerah.
Tinggalkan Balasan