Krusial.com — Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Alfa Salam, mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil untuk segera turun tangan menangani warga yang terdampak banjir. Alfa menilai pemerintah daerah terlihat abai dan kurang hadir di tengah masyarakat yang kini membutuhkan bantuan darurat.
“Jangan hanya bermain dengan jabatan dan sibuk pencitraan. Saat ini warga membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata,” ujar Alfa Salam, dalam keterangannya tertulisnya kepada Krusial.com, Jumat (28/10/2025).
Menurut putra asli Aceh Singkil itu, lemahnya kehadiran pemerintah terlihat dari tidak tersedianya dapur umum, minimnya suplai air minum, serta mulai menipisnya persediaan makanan di warung-warung akibat terputusnya akses.
Kondisi itu, kata Alfa, menunjukkan bahwa pemerintah tidak melakukan kontrol dan pemantauan secara maksimal terhadap wilayah terdampak.
“Seharusnya pemerintah melakukan kontroling terhadap daerah yang terdampak dan bergerak lebih cepat,” katanya.
Alfa menyoroti bahwa banjir berulang di Aceh Singkil tidak lagi bisa disebut sebagai bencana alam semata, melainkan cermin dari kelemahan perencanaan, rendahnya pengawasan, dan minimnya keberpihakan pemerintah terhadap keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga tampak lemah dalam pengawasan terhadap aktivitas perusakan lingkungan seperti pembukaan lahan, sedimentasi sungai, serta perubahan tata ruang yang memperburuk risiko banjir.
Ia mengatakan pemerintah daerah seharusnya merasa malu karena setiap tahun masyarakat menghadapi musibah yang serupa tanpa adanya langkah pencegahan berarti.
“Akibat kurangnya pengawasan dan pencegahan, warga terus kehilangan harta benda, aktivitas harian lumpuh, dan ekonomi lokal terganggu, sementara respons pemerintah selalu bersifat reaktif, bukan preventif,” tukasnya.
Alfa menjelaskan bahwa hingga kini belum terlihat upaya serius untuk memperkuat tanggul, memperbaiki jaringan drainase, atau melakukan normalisasi sungai secara berkelanjutan. Upaya yang muncul dinilai sporadis dan tidak menyentuh akar persoalan.
Di sisi lain, respons saat banjir terjadi juga dianggap lamban. Menurutnya, banyak warga melaporkan keterlambatan bantuan, koordinasi yang tidak jelas antarinstansi, serta pendataan kerusakan yang tidak terkelola dengan baik. Hal ini menunjukkan sistem penanggulangan bencana yang masih lemah dan tidak siap menghadapi situasi darurat.
“Selama pengawasan longgar, bencana hanya tinggal menunggu waktu. Meski begitu, publik berhak mendapatkan informasi mengenai strategi jangka panjang pemerintah untuk mencegah banjir, jangan hanya janji tanpa roadmap yang jelas dan terukur,” tandas Alfa.
Alfa menegaskan bahwa Pemerintah Aceh Singkil harus segera berbenah dan berhenti menormalisasi bencana yang sebenarnya bisa diminimalkan.
“Warga Aceh Singkil membutuhkan pemerintah yang bergerak cepat, transparan dan visioner, bukan birokrasi yang baru sibuk setelah banjir terjadi, tetapi diam ketika pencegahan seharusnya dilakukan,” pungkasnya. ***
Tinggalkan Balasan