Krusial.com — Krisis iklim semakin memperberat beban lahan pertanian yang selama bertahun-tahun bergantung pada pupuk dan pestisida kimia. Di tengah ancaman kerusakan tanah dan penurunan produktivitas, secercah harapan justru muncul dari hamparan sawah di Kampung Asri Farm, Desa Kedungrejo, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang. Sekelompok petani membuktikan bahwa bertani tanpa bahan kimia bukan hanya menyelamatkan alam, tetapi juga mampu mendongkrak hasil panen secara signifikan.
Kelompok tani yang tergabung dalam P4S Asri Farm sukses memanen padi varietas Kebuli yang ditanam sepenuhnya menggunakan pupuk organik Gendruwo produksi PT Indofast Argo Nusantara. Hasilnya tidak main-main, produktivitas lahan melonjak hingga hampir dua kali lipat dibandingkan metode konvensional berbasis pupuk kimia.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Heru Affandi, yang aktif mendorong praktik pertanian ramah lingkungan, menyebut penggunaan pupuk organik Gendruwo berdampak langsung pada ketahanan tanaman padi. “
Secara kualitas dan kuantitas jauh lebih baik. Yang paling terasa, tanaman jadi lebih kuat dan tidak mudah terserang hama dibandingkan saat masih pakai pupuk kimia,” ujar Heru saat ditemui di lokasi Cangkruk Tani, Minggu (8/2/2026).
Lonjakan hasil panen tercatat jelas. Dari lahan seluas 10.000 meter persegi, produksi padi yang sebelumnya hanya berkisar 5.000–6.000 kilogram per musim tanam, kini mampu mencapai 7.000–8.000 kilogram. Selain itu, masa tanam hingga panen juga menjadi lebih singkat. Heru menjelaskan, umur panen yang biasanya sekitar 115 hari setelah tanam, kini dapat dipangkas menjadi sekitar 108 hari.
“Meski cuaca hujan terus seperti sekarang, tanaman tetap tumbuh optimal dan kualitasnya terjaga,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Pupuk Organik Gendruwo, Drs. Eko Pranyoto, menuturkan bahwa penggunaan pupuk organik bukan sekadar upaya meningkatkan produksi, tetapi juga langkah memulihkan kesehatan tanah yang telah lama terpapar bahan kimia sintetis.
“Gunakan pupuk organik yang sudah tersertifikasi. Tanah kita harus dinaikkan kualitasnya, dari pH 5–6 ke level ideal 7–9. Ini bukan hanya soal panen hari ini, tapi soal masa depan pertanian,” tegasnya.
Ia menambahkan, pulihnya unsur hara tanah berdampak pada kembalinya ekosistem alami sawah. Sejumlah indikator hayati seperti belut dan mikroorganisme tanah yang sempat menghilang mulai kembali ditemukan. Selain lebih ramah lingkungan, padi sehat organik ini juga dinilai lebih aman dikonsumsi karena bebas residu bahan kimia sintetis. Eko mengaku bangga melihat keterlibatan generasi muda seperti PPL Heru yang turun langsung ke sawah dan menjadi pelopor pertanian padi sehat.
“Intinya, pangan yang dihasilkan harus sehat. Ketahanan pangan adalah kekuatan negara. Kalau tanahnya sehat dan petaninya cerdas, pangan kita akan kuat,” tutupnya.***
Tinggalkan Balasan