Pemilu kali ini menempatkan anak muda sebagai golongan paling menentukan. Bagaimana tidak, Komisi Pemilihan Umum (KPU) merilis data Daftar Pemilih Pemilu tahun ini jumlah suara anak muda lebih dari separuh atau mencapai 56,45 persen.
Jika dikelompokkan lebih rinci maka 33,60 persen berasal dari generasi Y atau generasi milenial dan 22,85 persen dari generasi Z.
Jika generasi Z merujuk pada orang yang lahir mulai 1995 hingga 2000-an maka Generasi milenial adalah sebutan untuk orang yang lahir pada 1980 hingga 1994.
Oleh sebab itu, Ketua Majelis Pengurus Wilayah Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (MPW PEMUDA ICMI) Aceh, Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc berharap kelompok anak muda ini dapat memanfaatkan hak pilihnya dengan baik dan turut mengawal suara yang diberikan agar pemilu benar-benar berjalan secara Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil (Luber dan Jurdil).
Hal ini disampaikan Yasar sebagai himbauan untuk menyikapi suasana menjelang pemilu. Mantan Anggota Panitia Pengawas Pemilu Luar Negeri (Panwas LN) Kuala Lumpur tersebut berharap partisipasi pemilih dalam Pemilu kali ini tinggi dan berkualitas.
Yasar mengajak anak muda khususnya di Aceh agar tidak ada yang golput karena golput meskipun menjadi pilihan dalam berdemokrasi tetapi bukanlah pilihan yang tepat. Sikap golput sangat tidak bijak karena berarti merelakan orang lain memilih mewakili kita secara sukarela.
Yasar yakin anak muda Indonesia khususnya di Aceh pasti telah mencermati dan menilai semua para calon mulai dari legislatif untuk DPR dan DPD hingga Presiden dan Wakil Presiden. Jangan terkecoh dengan gaya-gaya yang seolah-olah mengikuti selera anak muda sementara program kerja dan visi misi yang ditawarkan sama sekali tidak mencerminkan keberpihakan terhadap nasib anak muda.
“Pemilu ini merupakan gambaran bagaimana ke depan kita akan menghadapi bonus demografi itu. Jika pemimpin bangsa tidak paham dengan situasi ini maka kita akan kehilangan peluang emas untuk memajukan Indonesia,” ungkap Yasar, pada Kamis, 08 Februari 2024.
Persoalan kemiskinan dan pengangguran menjadi potret buram yang terus menghantui perjalanan bangsa ini. Kehidupan sosial ekonomi yang penuh ketimpangan menjadi momok yang menakutkan sekaligus mengancam stabilitas nasional. “Oleh sebab itu pastikan amanah besar konstitusi ini kita titipkan kepada orang yang tepat untuk memimpin bangsa ini,” harap Yasar.
Yasar juga meminta kepada seluruh masyarakat terutama yang memiliki hak pilih, jangan terpengaruh dengan politik uang atau serangan fajar dalam bentuk sandang dan pangan atau bentuk iming-iming lainnya. “Jika tidak layak untuk dipilih jangan dipilih, karena nasib kita menjadi taruhannya,” ujar Yasar.
Semoga Pemilu tahun ini menjadi pemilu yang berintegritas, meningkat dalam hal kuantitas pemilih, juga menghasilkan kualitas hasil yang diraih agar bangsa ini maju dan berkembang serta disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia.***
Tinggalkan Balasan