Krusial.com — Dinas Kesehatan Aceh Barat memperkuat penemuan kasus tuberkulosis (TBC) dengan menggencarkan tracing atau pelacakan terhadap warga yang berisiko terpapar. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penanganan sekaligus menekan potensi penularan di masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Barat, Evi Darni S.Kep., M.KM, mengatakan tracing TBC dilakukan di sejumlah kecamatan dan terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Salah satu lokasi pelaksanaan berada di Desa Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, Rabu (26/8/2026).

“Pesertanya terdiri dari penderita TBC, keluarga yang memang ada penderita TBC, serta lingkungan yang ada penderita TBC,” kata Evi.

Menurut Evi, pemeriksaan tersebut difokuskan pada screening awal untuk menemukan kasus TBC sedini mungkin, termasuk terhadap warga yang memiliki kontak erat dengan pasien.

Program tracing itu juga menjadi bagian dari program pemerintah pusat yang dilaksanakan secara nasional mulai Agustus hingga November 2026. Setiap lokasi sasaran ditargetkan melibatkan sekitar 100 peserta.

Data Dinas Kesehatan Aceh Barat mencatat sekitar 230 kasus TBC ditemukan sejak Januari hingga Agustus 2026. Angka tersebut menjadi salah satu alasan penguatan upaya deteksi dini di tengah masyarakat.

Evi mengatakan integrasi tracing dengan program CKG diharapkan membuat masyarakat sasaran tidak hanya menjalani pemeriksaan TBC, tetapi juga memperoleh pemeriksaan kesehatan secara lebih menyeluruh.

“Harapannya ke depan semua penderita TBC ini bisa terobati, semua kasus TBC dapat ditemukan, sehingga tidak ada lagi penularan yang tidak terkendali,” ujarnya.

Ia meminta masyarakat tidak menghindari pemeriksaan karena takut terhadap stigma TBC. Menurutnya, anggapan negatif terhadap penderita masih menjadi salah satu kendala dalam menemukan kasus secara cepat.

“Kepada masyarakat kami harapkan bersedia dilakukan screening TBC. Tujuannya agar cepat kita obati, penularannya bisa dihindari, dan penderita baru tidak kita temukan lagi,” katanya.

Evi menegaskan TBC bukan penyakit yang harus disembunyikan. Pasien yang terdiagnosis dapat menjalani pengobatan sesuai prosedur sehingga peluang sembuh semakin besar dan risiko penularan dapat ditekan.

“Jangan merasa terdiskriminasi karena penyakit TBC. Kita tahu penyakit ini sering diisolasi oleh masyarakat, sehingga ada yang tidak mau mengaku atau menyangkal ketika didiagnosis TBC,” pungkasnya. ***