Krusial.com — Hampir satu dekade lamanya, warga Gampong Pasie Kualaba’u, Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan, dipaksa bersabar menghadapi kondisi jalan utama gampong yang kian memprihatinkan. Sepanjang hampir empat kilometer, ruas jalan tersebut kini berubah menjadi lintasan penuh “luka” aspal terkelupas, batu tajam mencuat, dan lubang-lubang menganga yang setiap saat mengancam keselamatan pengguna jalan.
Pantauan di lapangan, Selasa (13/1/2026), memperlihatkan kondisi jalan yang jauh dari kata layak. Di banyak titik, lapisan aspal telah habis terkikis, menyisakan kerikil dan tanah keras. Saat hujan turun, lubang-lubang itu berubah menjadi kubangan air yang menipu pengendara.
Terlihat rata di permukaan, namun cukup dalam untuk membuat sepeda motor oleng bahkan terjatuh. Pada titik lain, batu-batu besar berserakan, memaksa pengendara bermanuver perlahan demi menghindari benturan yang bisa merusak kendaraan.
Kondisi ini bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan jiwa. Warga mengaku tak sedikit pengendara yang terjatuh atau mengalami kerusakan kendaraan akibat menghantam lubang jalan. Aktivitas ekonomi masyarakat pun ikut tersendat, terutama bagi petani dan pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya pada akses jalan tersebut.
Keuchik Terpilih Gampong Pasie Kualaba’u, Imam Mukhti, menegaskan bahwa kerusakan jalan ini bukan persoalan baru.
“Sudah lebih dari sepuluh tahun jalan ini dibiarkan tanpa penanganan serius. Setiap tahun kondisinya semakin parah, tapi belum pernah ada perbaikan menyeluruh,” tegasnya.
Menurut Imam, usulan perbaikan dan pembangunan jalan telah berulang kali diajukan melalui Musrenbang gampong hingga kecamatan. Namun hingga kini, semua usulan itu belum juga berbuah realisasi.
“Kami tidak tinggal diam. Setiap forum perencanaan, jalan ini selalu kami usulkan karena ini urat nadi gampong. Tapi faktanya, warga masih harus bergelut dengan jalan rusak,” ujarnya.
Ia menambahkan, dampak buruk infrastruktur ini sangat luas. Selain meningkatkan risiko kecelakaan, akses warga menuju sekolah, fasilitas kesehatan, dan pasar menjadi terhambat. Beban ekonomi masyarakat pun bertambah akibat biaya perawatan kendaraan yang terus meningkat.
“Ini bukan hanya soal aspal. Ini menyangkut keselamatan, ekonomi, dan masa depan anak-anak kami yang setiap hari melewati jalan ini untuk bersekolah,” tambah Imam dengan nada prihatin.
Atas kondisi tersebut, masyarakat Pasie Kualaba’u berharap pemerintah daerah dan instansi terkait tidak lagi menutup mata.
“Kami meminta pemerintah benar-benar turun ke lapangan dan melihat langsung kondisi ini. Warga hanya menuntut satu hal sederhana, jalan yang layak dilalui. Dengan jalan yang baik, roda ekonomi bergerak dan risiko kecelakaan bisa ditekan,” pungkasnya.
Bagi warga Pasie Kualaba’u, jalan bukan sekadar hamparan aspal. Ia adalah penghubung kehidupan.
Dan kini, mereka terus menunggu dengan cemas, kapan penghubung itu akhirnya dipulihkan.***
Tinggalkan Balasan