Krusial.com — Semangat literasi kembali terasa hangat dan hidup dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMA/SMK tingkat Kabupaten Aceh Selatan tahun 2026.
Pada cabang lomba jurnalistik kategori artikel feature, kehadiran Hasbaini SPd MPd sebagai juri membawa nuansa berbeda, memadukan sudut pandang profesional dengan sentuhan inspiratif bagi para peserta untuk pengembangan diri.
Kegiatan yang berlangsung di SMAN 1 Tapaktuan pada Rabu (29/04/2026) ini diikuti oleh 15 siswa terbaik perwakilan sekolah dari berbagai wilayah Aceh Selatan.
Mereka hadir bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk belajar merangkai ide, mengasah kepekaan, serta menyuarakan realitas melalui tulisan yang mereka bangun dengan penuh makna.
Dikenal sebagai dosen di Politeknik Aceh Selatan sekaligus Sekretaris MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan, Hasbaini aktif berkecimpung di dunia jurnalistik, literasi, dan kehumasan.
Baginya, menulis bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan proses untuk mengenali diri dan memahami kehidupan secara lebih dalam. Gagasan itu juga ia tuangkan dalam bukunya, Inspiratif Menolak Menyerah: Gali Potensi Diri dan Temukan Fakta Kehidupan.
Dalam proses penilaian, Hasbaini menilai karya para peserta menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Ia mengungkapkan bahwa selisih nilai di tiga besar sangat tipis, mencerminkan kemampuan yang semakin kompetitif di kalangan siswa.
Namun, menurutnya, esensi utama bukan terletak pada kemenangan, melainkan pada keberlanjutan proses belajar menulis itu sendiri.
Hasil lomba menetapkan Kalani Dumariris Pasaribu sebagai juara pertama dengan nilai 91 di bawah bimbingan Susilawati SPd. Posisi kedua diraih Maghfira Izani dengan nilai 90 yang dibimbing Nurlaibah, SPd sementara Rayna Ufaira menempati posisi ketiga dengan nilai 89 bersama mentor Citra Maullida SPd.
Lebih jauh, Hasbaini menyampaikan pesan yang menyentuh kepada seluruh peserta. Ia mengajak para siswa agar tidak menjadikan menulis sebagai kegiatan sesaat yang hanya dilakukan saat lomba berlangsung.
Menulis, menurutnya, adalah latihan berpikir yang jika terus diasah akan menjadi kekuatan besar dalam kehidupan, baik di dunia akademik maupun dalam realitas sehari-hari.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Cabang Kabupaten Aceh Selatan, Annadwi, SPd MM turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.
Ia menegaskan pentingnya pembinaan literasi yang berkelanjutan agar siswa terbiasa membaca, menulis, dan berpikir kritis sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi masa depan.
Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya penulis-penulis muda. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menulis menjadi bekal penting untuk menyaring, memahami, dan menyampaikan gagasan secara bijak.
FLS3N tahun ini pun meninggalkan pesan mendalam: menulis bukan hanya tentang meraih juara, tetapi tentang perjalanan panjang dalam menemukan suara, makna, dan jati diri dalam setiap kata.***
Tinggalkan Balasan