Krusial | Aceh Selatan – Petani pinang di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh terpaksa mengerut dahi dan memendam rasa kecewa. Pasalnya, harga jual biji pinang kering terpuruk habis hingga jatuh ke level paling rendah.

“Belum pernah terjadi harga pinang semurah saat ini semenjak beberapa tahun terakhir. Kalaupun turun masih dalam kategori kewajaran, paling jatuh Rp 6.000 per kilogram,” kata salah seorang pedagang pengumpul di Kecamatan Sawang, Safrijal, pada Jumat 22 Maret 2024.

Pria yang kental disapa Afin itu mengakui, sebelum anjlok Rp 3.500 per kilogram, harga biji pinang kering masih laku Rp 6.000 per kilogram. Namun saat ini benar-benar kewalahan apalagi menghadapi Hari Raya Idul Fitri.

Kondisi harga pinang turun sangat berdampak kepada merosotnya perekonomian masyarakat di seluruh Aceh Selatan, terutama petani yang bergantung hidup dari hasil pertanian pinang.

“Akibat harga pinang terpuruk banyak petani mengeluh, terlebih pada bulan suci ramadhan banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi. Sebagian petani enggan menjual hasil panen dan menanti harga normal kembali,” papar Safrijal.

Sebagai pedagang pengumpul, tambah Safrijal, kami turut merasakan penderitaan yang dialami petani di Aceh Selatan, apalagi kondisi ini turut menyerempet langsung kepada pedagang hingga menelan kerugiaan.

“Keluh kesah petani ini menjadi biang merosotnya perekonomian di Aceh Selatan. Namun masih beruntung, harga komoditi tani lainnya masih normal dan bertahan,” imbuhnya.

Menurut Safrijal, harga pala mentah di Aceh Selatan masih berkutat Rp 22.000 per kilogram. Minyak Pala bertengger Rp 950.000 per kilogram. Sementara itu, harga minyak nilam (atsiri) Rp 800.000 per kilogram.

Begitu juga halnya dengan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa Sawit masih menyentuh angka Rp 2000-2200 per kilogram. Hanya biji pinang kering yang mengalami down di angka yang belum pernah terjadi selama ini.***