Krusial.com — Lebih dari 20 hari setelah bencana melanda Aceh–Sumatra, wilayah Tanah Gayo masih menghadapi krisis kemanusiaan. Akses utama menuju Takengon melalui jalur Bireuen dan Linge terputus akibat runtuhnya sejumlah jembatan, sementara dukungan helikopter dinilai masih sangat terbatas.

Akibat kondisi tersebut, ribuan warga di Kabupaten Aceh Tengah hingga kini masih terisolasi. Sebagian masyarakat terpaksa berjalan puluhan kilometer untuk memperoleh beras dan kebutuhan pokok lainnya.

Situasi ini mendapat sorotan dari Ketua Tim Advokasi Demokrasi Sentra Indonesia (ADSI) Misran SH. Ia menilai penanganan pascabencana di wilayah tersebut masih menghadapi kendala serius, terutama dalam pendistribusian logistik ke daerah-daerah terpencil.

Misran mendesak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera mengambil langkah konkret dengan mengerahkan sekitar 20 ribu relawan lintas sektor ke Aceh Tengah dan Takengon. Menurutnya, jumlah itu bukan bersifat simbolik, melainkan kebutuhan realistis yang mempertimbangkan beratnya medan, luas wilayah terdampak, serta keterbatasan akses transportasi darat maupun udara.

Ia mengusulkan agar distribusi bantuan dilakukan secara berantai dari tangan ke tangan untuk menjangkau desa-desa yang tidak dapat diakses kendaraan maupun helikopter.

“Ribuan warga harus berjalan puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan beras. BNPB tidak bisa hanya mengandalkan laporan. Negara harus hadir secara nyata,” tegas Misran, Rabu (17/12/2025).

Lebih lanjut, Misran menjelaskan bahwa pengerahan relawan dalam jumlah besar akan memungkinkan pembagian tugas yang lebih efektif, mulai dari pengangkutan logistik, pembukaan jalur darurat, hingga membantu evakuasi warga terdampak.

Selain aspek operasional, kehadiran relawan juga diharapkan memberi dampak psikologis positif bagi masyarakat yang selama ini terisolasi.

Misran menegaskan, BNPB sebagai garda terdepan penanggulangan bencana harus bergerak cepat dan berani mengambil keputusan di lapangan. “Setiap hari keterlambatan berarti meningkatnya risiko bagi keselamatan warga dan menurunnya kepercayaan publik,” ujarnya.

Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa masyarakat Tanah Gayo membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar janji atau laporan administratif.


Apakah Anda ingin saya tambahkan kutipan dari pihak BNPB untuk menyeimbangkan sudut pandang beritanya?