Krusial | Malang — Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, produksi padi pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 254.794 ton Gabah Kering Giling (GKG). Jumlah ini menurun dibandingkan dengan produksi pada tahun 2023 yang mencapai 279.366 ton GKG, yang diperoleh dari 12 kali periode tanam.

Bupati Malang, H. M. Sanusi, juga menyatakan bahwa produksi pertanian di Kabupaten Malang menurun sangat signifikan. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh banyaknya tanggul dan bendungan yang rusak akibat banjir, sehingga irigasi di Kabupaten Malang membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah pusat.

Kepala Desa Bantur, Nanang Kosim, membenarkan data dari BPS dan pernyataan Bupati Malang. Menurutnya, lahan pertanian padi di Desa Bantur yang dulunya seluas 150 hektare kini hanya tersisa 20% yang masih produktif.

“Di Desa Bantur, ada sekitar 150 hektare sawah yang produksi padi, namun saat ini hanya 30 hektare yang masih menanam padi,” kata Nanang.

Menurut Nanang, banyak lahan persawahan yang tidak produktif dan beralih fungsi menjadi lahan jagung dan tebu. Hal ini disebabkan oleh jebolnya Dam 1 Bantur pada tahun 2019, sehingga kebutuhan pengairan pertanian tidak terpenuhi.

“Kebutuhan pengairan kami sebenarnya cukup, namun karena Dam 1 Bantur belum diperbaiki, banyak persawahan kami yang tidak produktif dan beralih fungsi,” ungkap Nanang.

Nanang menambahkan bahwa sebagai Kepala Desa, dirinya sangat prihatin melihat kondisi pertanian di desanya. Saat ini, warga hanya bisa bertani dengan mengandalkan musim hujan dan sumber air umbul, yang hanya mampu mencukupi 20% kebutuhan.

“Jika Dam 1 Bantur segera direvitalisasi, maka pertumbuhan pertanian sebagai swasembada pangan akan terpenuhi,” harap Nanang.

Sementara itu, masyarakat Desa Bantur hanya bisa panen satu kali dalam setahun, dan itu pun tergantung pada curah hujan. Sebelumnya, mereka bisa panen padi tiga sampai empat kali dalam setahun.

“Dulu, petani bisa panen tiga sampai empat kali dalam setahun, sekarang hanya panen satu kali saja, dan kadang gagal,” pungkas Nanang. (Prayitno)