Krusial.com — Kepala Dinas Sosial Aceh, Budi Afrizal, S.KM., M.KM., meminta seluruh jajaran Dinas Sosial Aceh memperkuat disiplin, koordinasi, inovasi, dan kualitas pelayanan sosial kepada masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Budi saat memimpin Apel Gabungan Pejabat Struktural, Kepala UPTD, pejabat fungsional, dan seluruh pegawai Dinas Sosial Aceh di Tribun Kantor Dinas Sosial Aceh, Senin (31/8/2026).

Dalam arahannya, Budi meminta setiap pegawai bekerja sesuai tugas dan fungsi (tusi) masing-masing, sekaligus memperkuat kolaborasi sebagai satu kesatuan organisasi.

Menurutnya, setiap bidang dan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian target program Dinas Sosial Aceh.

Memasuki semester kedua 2026, Budi meminta seluruh bidang dan UPTD memastikan berbagai target program dan kegiatan yang telah direncanakan dapat dilaksanakan secara optimal.

Pencapaian target tersebut, kata dia, juga menjadi salah satu bahan penting dalam penyusunan anggaran perubahan serta perencanaan program dan kegiatan Dinas Sosial Aceh tahun 2027.

Ia menekankan agar setiap usulan program dan kegiatan disusun berdasarkan data, kebutuhan masyarakat, serta target yang terukur. Dengan pendekatan tersebut, anggaran yang direncanakan diharapkan lebih tepat sasaran dan memberikan dampak nyata.

“Ketika kita menyusun perencanaan dan kebutuhan anggaran, semuanya harus berdasarkan data yang ada di masing-masing bidang dan UPTD,” ujar Budi.

Program Sosial Harus Terukur Dampaknya

Budi mencontohkan program pemberdayaan fakir miskin melalui Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup hanya dilihat dari jumlah bantuan yang telah disalurkan kepada masyarakat.

Lebih dari itu, perlu dilihat sejauh mana bantuan tersebut memberikan perubahan terhadap kondisi penerima manfaat, termasuk peningkatan kemampuan ekonomi dan berkurangnya ketergantungan terhadap bantuan sosial.

“Jangan hanya melihat berapa bantuan yang sudah kita berikan. Kita harus melihat apa hasilnya bagi penerima manfaat dan apakah kondisi ekonominya mengalami perubahan,” katanya.

Hal serupa, lanjut Budi, perlu diterapkan dalam pelayanan yang dilakukan UPTD. Data pelayanan seharusnya tidak hanya mencatat jumlah masyarakat yang menerima layanan, tetapi juga perkembangan dan hasil setelah mendapatkan pembinaan.

Dalam pelayanan terhadap anak, misalnya, keberhasilan dapat dilihat dari proses reunifikasi dengan keluarga maupun kemampuan anak untuk kembali menjalani kehidupan secara mandiri.

“Data pelayanan harus bisa menggambarkan hasil dari pelayanan yang kita berikan, bukan hanya jumlah orang yang dilayani,” tegasnya.

Dorong Pemanfaatan Data dan Teknologi

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan sosial, Budi juga mendorong optimalisasi pemanfaatan data dan teknologi digital, termasuk melalui penguatan Aplikasi Sejahtera.

Menurutnya, sistem tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai jumlah masyarakat yang telah mendapatkan pelayanan serta jenis layanan sosial yang diberikan oleh Dinas Sosial Aceh.

Pemanfaatan data yang lebih baik juga dinilai penting dalam menentukan kebijakan, menyusun program, serta memastikan intervensi pemerintah benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Dengan data yang baik, kita akan lebih mudah melihat siapa yang sudah dilayani, jenis pelayanan yang diberikan, dan apa yang masih menjadi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Fokus pada Tugas, Tetap Bekerja sebagai Tim

Dalam arahannya, Budi mengibaratkan Dinas Sosial Aceh sebagai sebuah rumah yang dibangun secara bersama-sama. Setiap pegawai memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing untuk memastikan rumah tersebut berdiri dengan baik.

“Kalau tugas kita menyusun batu bata, susunlah batu bata itu. Kalau tugas kita memasang genteng, fokus memasang genteng,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan bahwa fokus pada tugas dan fungsi bukan berarti setiap pegawai bekerja sendiri. Sebaliknya, seluruh jajaran harus tetap saling mendukung dan berkoordinasi sebagai satu tim.

Budi juga mengajak seluruh pegawai berani menyampaikan gagasan dan inovasi yang sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

Menurutnya, setiap ide yang dinilai baik dapat dibahas, dikembangkan, dan disinergikan hingga menjadi program organisasi.

“Ketika sudah menjadi program Dinas Sosial, itu menjadi ide kita bersama dan menjadi pekerjaan kita bersama,” tegasnya.

Perkuat Komunikasi Publik

Menutup arahannya, Budi mengingatkan pentingnya penguatan komunikasi publik melalui media sosial, website, dan berbagai kanal informasi lainnya.

Ia meminta seluruh jajaran tetap mengedepankan etika sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Menurutnya, komunikasi publik yang baik diperlukan untuk menyampaikan berbagai program dan pelayanan Dinas Sosial Aceh sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah.

Budi juga mengajak seluruh pegawai menjaga nama baik institusi, memperkuat koordinasi, mendukung penyebaran informasi positif, serta membangun budaya kerja yang saling mendukung.

“Kita satu tim. Mari kita fokus, saling mendukung dan bersama-sama memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya.***