Krusial | Aceh Selatan — Kebijakan Dinas Pendidikan Aceh tentang pembatasan aktivitas siswa di luar rumah setelah pukul 22.00 WIB memunculkan berbagai reaksi. Di balik penerapan aturan ini, terselip suara kecil yang menggugah harapan sederhana dari seorang anak, yang menginginkan bukan sekadar aturan, tapi juga perhatian.
“Aku setuju dengan aturan jam malam. Tapi aku juga ingin orang tuaku ikut pulang lebih cepat. Jangan malam-malam baru pulang dari warung kopi atau kafe. Aku ingin mereka ada di rumah, duduk bersama, dan bercerita,” ucap seorang siswa SMP di Aceh Selatan dengan suara lirih, matanya menunduk, menyimpan rindu yang tak terucap setiap malam, Rabu (7/5/2025).
Ia melanjutkan dengan suara yang nyaris patah, “Kadang aku hanya ingin ditanya, bagaimana hariku di sekolah. Atau ditemani belajar. Tapi mereka sibuk sendiri. Ayah sering nongkrong sampai larut, Ibu main HP sambil menonton sinetron. Di rumah ramai, tapi aku merasa sendiri.”
Bagi anak-anak, rumah semestinya bukan hanya tempat pulang, tapi juga tempat merasa diterima dan dicintai. Di usia mereka yang sedang tumbuh dan mencari jati diri, kehadiran fisik dan emosional orang tua menjadi kebutuhan yang tak tergantikan. Waktu bersama, sekadar duduk berdampingan atau mendengarkan cerita mereka, adalah bentuk perlindungan yang paling tulus dan paling kuat.
Koordinator Wilayah Barat Yayasan P2TP2A Rumoh Putroe Aceh, Gusmawi Mustafa, menegaskan bahwa keberadaan anak di rumah akibat kebijakan jam malam justru menuntut orang tua untuk hadir lebih penuh. “Kita terlalu sibuk melindungi anak dari luar, tapi lupa menghadirkan rasa aman dari dalam rumah. Anak-anak butuh pelukan, bukan hanya perintah. Butuh teman bercerita, bukan hanya layar yang menyala,” ungkapnya.
Ia juga mengajak semua orang tua untuk memaknai malam sebagai waktu emas keluarga. “Makan malam bersama, salat berjamaah, membaca buku, atau sekadar mendengar mereka bercerita—hal sederhana yang membentuk karakter dan kebahagiaan anak. Waktu bersama adalah hadiah terbesar, yang tak bisa dibeli dengan apa pun,” kata Gusmawi Mustafa.
Suara hati seorang anak ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia yang semakin sibuk, perhatian dan kebersamaan adalah bentuk perlindungan yang paling sejati. Anak tidak butuh orang tua yang sempurna, tapi cukup orang tua yang hadir.***
Tinggalkan Balasan