Krusial.com – Dosen Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc sebut janeng layak dijadikan sebagai simbol ketahanan pangan di Aceh.
Hal tersebut diungkap Yasar saat menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) dalam Launching Rumah Produksi Janeng Riting, di Desa Riting Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar, Senin, 4/8/2025.
Yasar menjelaskan bahwa Janeng adalah umbi beracun yang dalam bahasa latin dikenal dengan nama Dioscorea hispida dennst. Racun pada tumbuhan liar ini disebabkan oleh kandungan dioscorin, diosgenin, dan asam sianida. Berdasarkan indigenous knowledge yang dimiliki oleh masyarakat, janeng ini dapat dibuang kandungan racunnya sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Bagi orang Aceh, janeng ini dikenal sebagai makanan zaman perang. Yasar mengisahkan cerita ketika perlawanan melawan penjajahan Belanda, semua lumbung padi masyarakat dibakar Belanda, sementara masyarakat tidak berani turun ke sawah. Hal ini terjadi untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Aceh. Akibat kekurangan bahan pangan maka rakyat menjadi lemah dan mudah untuk ditaklukkan.
Dalam posisi bertahan, para ulama dan pejuang Aceh mendapat wangsit tentang bagaimana janeng ini bisa dihilangkan racunnya sehingga dapat dijadikan bahan pangan pengganti nasi. Uniknya mengkonsumsi janeng justru membawa efek yang baik bagi kesehatan tubuh sehingga perlawanan menjadi semakin kuat. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian tim Mitra PTN-BH kami dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.
Bahkan selain itu, kulit janeng yang telah dikupas juga dapat dimanfaatkan menjadi bahan pembuatan biopestisida atau pestisida botani sebagai mana yang telah dihasilkan oleh mitra kami dari Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand), Padang.
Artinya selain jadi bahan makanan, dapat pula menyelamatkan sumber bahan makanan dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti ulat dan serangga. Dan penggunaan biopestisida atau pestisida botani bersifat lebih ramah lingkungan dengan resiko terhadap dampak kesehatan lebih kecil dibandingkan pestisida sintesis. Tumbuhan ini mudah tumbuh sehingga mudah pula dalam proses membudidayakannya. Bahkan menurut masyarakat setempat, umbi janeng nyaris tanpa hama akibat kandungan racun yang dimilikinya.
Itulah mengapa dalam konteks sumber bahan pangan alternatif yaitu sebagai makanan pengganti beras, janeng menjadi pilihan yang sangat strategis. Apalagi dengan bantuan teknologi sekarang ini janeng dapat diolah untuk berbagai macam produk tergantung inovasi pengolahannya. Saat ini kami mengajak masyarakat untuk mengembangkan janeng dari yang hanya dikonsumsi sebagai keurabe, menjadi tepung dan aneka olahan tepung kreatif lainnya. Hampir semua pemanfaatan ubi-ubian dapat diadopsi atau diadaptasi untuk janeng.
Untuk menunjang sarana produksi pengolahan janeng ini, tim PMKI kami telah membuat 5 (lima) alat Teknologi Tepat Guna (TTG) yaitu pengupas, perajang, pembuang racun, pengering, dan penepung. Melalui program ini kami berharap dapat meningkatkan nilai ekonomi janeng sebagai bahan pangan alternatif berkelanjutan berbasis TTG untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, ujar Yasar.***
Tinggalkan Balasan